Kedatangan Jemaah Haji Indonesia dari Bandara AMAA ke Hotel di Madinah Berjalan Lancar, Sistem Rombongan Jadi Kunci Layanan

MADINAH — Arus kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin ABDULAZIZ, hingga Jum’at pagi (24/4/2026), terus berlangsung padat.

Berdasarkan data operasional hari ketiga gelombang I, ribuan jemaah telah tiba dari berbagai embarkasi di Indonesia dengan sejumlah penerbangan berbeda.

Jemaah asal Embarkasi Banten (JKB) sendiri sudah ada dua kloter yang tiba dengan selamat dan telah menempati sejumlah hotel di Madinah.

Dari dua kloter tersebut diketahui jumlah jemaah sebanyak 778 orang, ditambah 8 petugas dari unsur Pendamping Haji Daerah (PHD), Pembimbing Ibadah (TPIH), dan Tim Kesehatan (TKHI).

Kementerian Haji dan Umrah RI melalui Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) hingga hari kedua ini, telah mengatur kedatangan jemaah haji Indonesia yang cukup padat ini dengan menerapkan sistem pengelompokan berbasis rombongan.

Sistem ini terbukti menjadi kunci utama kelancaran layanan kedatangan jemaah di Bandara AMAA, yang dilanjutkan juga dengan pengantaran ke hotel-hotel di Madinah.

Kepala Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, menegaskan bahwa skema pengaturan jemaah yang telah disusun sejak dari Indonesia harus dijaga konsistensinya hingga tiba di Madinah.

Mulai dari penempatan kursi di pesawat hingga pembagian bus, seluruh proses dirancang terintegrasi.

“Kalau sejak awal rombongan sudah tertata, maka saat turun pesawat, keluar gate, hingga naik bus akan lebih tertib dan cepat,” ujar Basir, Kamis (23/4/2026).

Ketua Kloter, Ketua Rombongan (Karom), dan Ketua Regu (Karu) diminta berperan aktif dalam mengarahkan jemaah agar tetap sesuai kelompok masing-masing.

“Pendampingan juga menjadi perhatian khusus, terutama bagi jemaah lanjut usia dan pengguna kursi roda. Di sisi transportasi, koordinasi dengan pihak syarikah dan sistem Nusuk diperkuat,” jelasnya.

Untuk pemberangkatan ke hotel, Petugas PPIH telah membuat skema untuk setiap bus dibatasi maksimal 40 jemaah haji, mengikuti pembagian rombongan dari Indonesia.

Kebijakan ini tidak hanya menjaga keteraturan, tetapi juga memudahkan pengawasan hingga jemaah tiba di hotel.

Untuk kloter dengan hotel terpisah, pembagian jemaah sudah diantisipasi sejak keberangkatan dari bandara, mengacu pada data akomodasi.

Hal ini dilakukan untuk mencegah perpindahan jemaah yang berpotensi menimbulkan kebingungan di lapangan.

Dengan sistem yang semakin solid, diketahui, layanan kedatangan jemaah haji Indonesia di Madinah pada hari kedua berlangsung lebih tertata, efisien, dan minim hambatan. (*/Red)

Comments (0)
Add Comment