JAKARTA – Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat mengaku cemas dengan perkembangan perang antara AS-Israel melawan Iran di Timur Tengah.
“Suasana sekarang ini memang ngeri-ngeri sedap, Kaum buruh harus mengerti juga hari demi hari, minggu demi minggu apa yang akan terjadi, dan kalau terjadi dampaknya seperti apa kepada kita,” kata Jumhur saat mengantarkan Diskusi Forum Urun Rembug Serikat Buruh, di Hotel Midtown Jl. TB Simatupang, Jaksel, Selasa (10/3/2026) sore.
Jumhur mengaku mendapat laporan dari salah seorang yang bekerja di perusahaan otomotif di tanah air, bahwa otomotif kita itu 65% ekspor. Dari jumlah itu 50% ke Timur Tengah, dan sekarang stop semua. Jadi artinya kira-kira 30% produksi yang biasanya dilakukan sekarang stop.
“Kalau 30% distop berapa lama jangka waktunya bisa ketahuan berapa ribu buruh yang bakal di-PHK dan sebagainya. Itu baru satu sektor,” tutur Jumhur.
Untuk itu pihaknya sengaja melakukan diskusi dengan mengundang ekonom Dr. Fadhil Hasan dari INDEF, dan Dr. Teguh Santosa dari Great Institute untuk benar-benar mengetahui apa dampak yang bakal terjadi akibat ekslasi perang di Timur Tengah.
Sementara itu menjawab pertanyaan peserta, Ekonom Senior INDEF Dr. Fadhil Hasan mengemukakan, Presiden Prabowo Subianto harus lebih berperan secara diplomatik dalam mencegah meluasnya dampak perang di Timur Tengah.
Menurut Fadhil, hubungannya yang luas dengan pemimpin negara-negara sahabat membuat Presiden Prabowo Subianto memiliki kelenturan dalam menggalang diplomasi dengan negara-negara lain untuk meminimalisir dampak perang di Timur Tengah itu.
“Kita harus dorong Presiden Prabowo untuk lebih proaktif melakukan diplomasi mencegah meluasnya dampak perang di Timur Tengah,” tutur Fadhil.
Soal stok minyak di tanah air yang tinggal 23 hari, Fadhil Hasan meminta masyarakat tidak merisaukannya, karena sebelum 23 hari stok BBM akan terus diisi sebagaimana yang terjadi selama ini.
Fadhil mengemukakan impor minyak kita dari Timur Tengah hanya 5% karena sebagian besar dari Nigeria dan Angola. Selain itu, Indonesia punya perjanjian dagang dengan AS yang memungkinkan impor minyak dari negara tersebut meskipun biayanya lebih mahal karena jaraknya yang lebih jauh.
sementara itu ekonom senior dari INDEF Dr, Fadhil Hasan mengaku tidak bisa memprediksi kapan perang di Timur Tengah antara AS – Israel dengan Iran akan berakhir. Karena itu, ia meminta para Pimpinan organisasi buruh nasional untuk memonitor perkembangan, dan senantiasa memberikan masukan kepada pemerintah.
“Kita minta harus dimonitor, observasi, kalau perlu memberikan masukan-masukan kepada pemerintah supaya dampaknya tidak negatif. Mudah-mudahanan saja perang ini berhenti dalam waktu yang sangat cepat,” kata Fadhil Hasan kepada wartawan.
Secara terpisah Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Moh Jumhur Hidayat mengakui kalau perang di Timur Tengah terus berlanjut akan berdampak yang luar biasa kepada kaum buruh karena boleh jadi industri akan berhenti.
“Kalau dollar naik ke atas, kita kesulitan bahan baku, industri juga akan berhenti,” terang Jumhur.
Sekarang saja, lanjut Ketua Umum KSPSI itu, sudah ada laporan manufacturing kita yang ekspor ke Timur Tengah sudah berhenti, misalnya otomotif yang 65% ekspor, dan 50%nya ke Timur Tengah. Artinya sekarang 30% drop.
“Ini kan dampaknya luar biasa 30% industri drop. Ini satu masalah dari satu sektor saja yang jika berlanjut tentu akan semakin parah,” ucap Jumhur.
Namun ia meyakini tentu ada mekanisme kita sebagai bangsa bisa mengatasi ini. Ia bersyukur karena Indonesia itu termasuk negara yang international linkagenya masih kecil. Global supplay chain kita masih kecil sekali. Itu artinya tingkat ketergantungan kita pada dunia internasional jauh lebih kecil dibanding dengan negara-negara tetangga.
Menurut Jumhur volume perdagangan kita cuma 600 milyar dollar, Ia membandingkan dengan Malaysia di atas 700 miliar dollar, singapore 550 miliar dollar padahal penduduk cuma 3 juta. “Artinya, hubungan kita dengan luar negeri relatif jauh lebih rendah sehingga ketika ada masalah di luar negeri tidak memukul kita habis-habisan,” pungkas Jumhur. ***