MADINAH – Tagline “Haji Ramah Lansia” bukan sekadar slogan. Di lapangan, petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) 2026 layanan Lansia dan Disabilitas membuktikannya lewat senyum, kesabaran, dan empati.
Dua petugas layanan Landis, Namira Stasya dan Fadli Ahmad Siagian, berbagi pengalaman menyentuh selama dua bulan melayani jemaah sepuh.
Petugas Landis Daerah Kerja Bandara Namira Stasya (30), mengaku tugasnya tak pernah lepas dari senyuman.
Setiap jemaah haji Indonesia mendarat di Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, sapaan “Selamat datang pak haji, bu haji” selalu keluar dari mulutnya.
Lihat jemaah lansia kelelahan, Namira langsung sigap carikan kursi roda lalu mendorong ke ruang tunggu.
Background-nya di dunia pelayanan, membuat Namira tak canggung lagi dalam melayani jemaah haji.
“Kebetulan saya memang background di pelayanan, jadi harus senyum setiap saat. Masya Allah saya sangat bersyukur banget, sangat nikmat banget. Kami bersentuhan dengan bapak-ibu yang sudah sepuh. Saya seperti melayani orang tua saya sendiri, melayani kakek-nenek saya sendiri,” ujar Namira kepada Media Center Haji.
Bagi Namira tak ada duka saat menjadi petugas Landis. Justru interaksi mendalam karena orang tuanya juga sudah lanjut usia.
“Supaya mereka tetap semangat walau capek atau panas di luar. Sebagai petugas harus senyum, salam, sapa. Itu pelayanan terbaik,” katanya.
Momen paling berkesan, Namira sering disangka bukan orang Indonesia oleh jemaah. Pernah juga ia bertemu jemaah lansia yang mirip almarhum neneknya.
“Seketika saya langsung sedih karena teringat almarhum nenek. Nenek yang ngajarin saya baca Alql-Qur’an dan nitip harapan biar jadi hafiz,” ceritanya lirih.
Sepulang tugas, Namira punya doa sederhana, istiqomah ramah, senyum, sabar, dan bermanfaat untuk orang di sekitar.
Pengalaman berbeda dirasakan Fadli Ahmad Siagian (35), petugas Landis Sektor 3 Daerah Kerja Madinah.
Da’i asal Medan ini baru pertama kali menangani jemaah lansia. Bekal 1 bulan di Asrama Haji Pondok Gede jadi kunci.
“Di lapangan jemaahnya macam-macam. Pesan Wamenhaj Dahnil Anzar saat pembekalan selalu sabar melayani, apa pun yang kita lakukan harus terasa nikmat,” kata Fadli.
Sesuai tagline tahun ini “Haji Ramah Disabilitas, Perempuan, dan Lansia”, jemaah lansia sakit harus diprioritaskan.
“Misalnya dapat kamar dulu tanpa antre. Itu bentuk pelayanan kami,” jelasnya.
Yang membuat Fadli senang ucapan terima kasih dari para jemaah.
Tipsnya melayani lansia cuma 3 kata: banyak diam, sabar, dengarkan.
“Kalau dia marah kita diam. Kalau curhat kita terima. Orang tua itu cenderung ingin didengarkan, ingin punya teman bicara. Ilmu itu yang saya dapat di sini dan bikin saya dekat dengan jemaah lansia,” kata ayah 3 anak itu.
Kisah Namira dan Fadli mewakili ribuan petugas Landis PPIH 2026.
Mereka garda terdepan memastikan jemaah lansia dan disabilitas bisa ibadah dengan tenang, aman, dan merasa dihargai.
Di balik ribuan jemaah yang kini telah pulang kembali ke Indonesia, ada senyum, sabar, dan diam penuh makna dari petugas Landis yang kerja senyap di Tanah Suci ini. (*/Red/MCH-2026)