MADINAH – Masjid Khandaq di Madinah menjadi salah satu destinasi ziarah bersejarah yang menyimpan jejak bisu perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Di sinilah saksi terjadinya Perang Khandaq atau Perang Ahzab, tempat Rasulullah SAW memanjatkan doa dan mendirikan salat ketika menghadapi pengepungan ketat pasukan sekutu pada tahun ke-5 Hijriah.
Perang Khandaq berlangsung pada bulan Syawal hingga Dzulqa’dah. Saat itu, sekitar 3.000 kaum Muslimin di Madinah harus berhadapan dengan 10.000 pasukan gabungan (Ahzab) yang dipimpin oleh Abu Sufyan.
Pasukan musuh tersebut terdiri atas kaum Quraisy, kabilah-kabilah Arab seperti Ghathafan, serta tokoh-tokoh Yahudi dari Bani Nadhir yang sebelumnya diusir dari Madinah.
Melihat jumlah musuh yang jauh lebih besar, Rasulullah SAW langsung menggelar musyawarah bersama para sahabat untuk menyusun strategi pertahanan.
Dalam pertemuan tersebut, Salman Al-Farisi mencetuskan ide brilian yang belum pernah diterapkan oleh bangsa Arab sebelumnya, yaitu menggali parit raksasa di sisi utara Madinah sebagai benteng pertahanan.
Proses penggalian parit dilakukan secara bergotong royong di tengah keterbatasan.
Meski didera cuaca ekstrem dan kekurangan makanan, kaum Muslimin tetap bekerja keras hingga benteng pertahanan itu selesai tepat sebelum pasukan musuh tiba.
Strategi ini terbukti sangat efektif. Pasukan sekutu yang tiba di Madinah terkejut melihat parit besar yang menghalangi laju mereka.
Akibatnya, mereka hanya bisa mengepung Madinah dari luar parit selama 24 hari.
Di tengah masa pengepungan, sempat terjadi duel legendaris antara jawara Quraisy, ‘Amr bin Abdu Wudd, dengan Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih berusia 26 tahun.
Duel tersebut dimenangkan oleh Ali, yang seketika meruntuhkan mental dan semangat pasukan sekutu.
Kini, jejak sejarah peperangan besar tersebut diabadikan lewat berdirinya Masjid Khandaq.
Berlokasi sekitar 2,5 kilometer di sebelah barat laut Masjid Nabawi—tepat di sisi barat Gunung Sela—masjid ini berdiri di area yang diyakini sebagai lokasi penggalian parit sekaligus tempat Rasulullah SAW berdoa meminta kemenangan.
Selain nama Masjid Khandaq, bangunan bersejarah ini juga populer disebut sebagai Masjid Al-Fath (Masjid Kemenangan).
Arsitektur masjid tetap mempertahankan nuansa klasik yang megah, dengan latar belakang perbukitan batu khas Madinah dan deretan pilar indah di dalamnya yang kerap menjadi spot favorit jemaah untuk berfoto.
Umair Bin Seff, salah seorang petugas Masjid Khandaq, menjelaskan bahwa masjid ini memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat dengan peristiwa Perang Khandaq.
“Masjid ini biasa dikenal dengan Masjid Al-Fath atau Masjid Khandaq. Ketika Perang Khandaq, Nabi Muhammad SAW salat di bawah bukit di sini,” ungkapnya.
Umair menambahkan, Masjid Khandaq awalnya merupakan bagian dari kompleks “Tujuh Masjid” (Sab’ah Masajid) yang masing-masing dikaitkan dengan tempat berjaganya para sahabat Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Salman Al-Farisi, dan Saad bin Muadz.
Saat ini, Masjid Khandaq yang telah dipugar mampu menampung hingga 4.000 jemaah.
Setiap musim haji dan umrah, lokasi ini selalu dipadati umat Islam dari berbagai belahan dunia yang ingin melakukan napak tilas perjuangan Islam.
”Di sini paling ramai pada hari Jumat. Selain berkunjung, jemaah juga melaksanakan salat Jumat di sini. Pihak masjid juga menyediakan minuman gratis bagi para jemaah, Masya Allah,” pungkas Umair. (*/Red/MCH-2026).