Musyrif Dini dari Ormas Perempuan Islam, Perkuat Pendampingan Jemaah Hadapi Puncak Haji di Armuzna

MAKKAH — Pendampingan terhadap jemaah haji perempuan menjadi fokus utama menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Organisasi perempuan Islam bersama petugas Musyrif Dini Haji memberikan pembekalan spiritual, psikologis hingga edukasi syariat.

Hal ini agar jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan baik dan sah sesuai ketentuan agama.

Perwakilan PP Muslimat NU, Lilik Nur Kholidah Badrus Sholeh mengatakan pihaknya mendapat tugas sebagai Musyrif Dini Haji 2026 untuk mendampingi jemaah, khususnya perempuan, selama pelaksanaan ibadah haji.

“Sebanyak 80 persen calon jemaah haji adalah perempuan. Karena itu kami hadir untuk memberikan pendampingan, bagaimana kaifiah ibadah, menjaga diri, hingga memastikan pelaksanaan hajinya sah sesuai syariat Islam,” kata Lilik.

Ia menjelaskan, pendampingan dilakukan melalui visitasi dan edukasi langsung ke hotel-hotel jemaah di setiap sektor.

Menurutnya, pembekalan tersebut penting agar para jemaah memahami tata cara ibadah dan mampu menjalankan seluruh rangkaian haji dengan baik.

“Kami bersama elemen organisasi perempuan memberikan pendampingan kepada calon jemaah haji perempuan dan secara keseluruhan agar mereka siap secara lahiriah maupun batiniah,” ujarnya.

Lilik menambahkan salah satu fokus pembekalan bagi jemaah perempuan adalah menghadapi kondisi khusus seperti haid saat pelaksanaan ibadah haji.

Menurut dia, pemahaman syariat menjadi hal penting agar jemaah tetap dapat menjalankan ibadah sesuai ketentuan agama.

“Pembekalan difokuskan agar jemaah perempuan bisa menjalankan syariat dengan betul-betul sah menurut agama dan sesuai ketentuan yang ada,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Aisyiyah, Ety menekankan pentingnya kesiapan psikologis selain kondisi fisik menjelang puncak haji di Armuzna.

“Yang pertama memang membekali mereka tentang spiritualitas dan ibadah. Yang kedua adalah psikologis. Selain fisik, kekuatan psikis harus dipersiapkan dalam menghadapi proses di Armuzna,” kata Ety.

Menurut dia, para pembimbing ibadah dan Musyrif Dini akan terus mendampingi jemaah selama proses ibadah berlangsung, termasuk memberikan edukasi di setiap sektor pemondokan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga stamina dan istirahat cukup, terutama bagi jemaah perempuan yang masuk kategori risiko tinggi, lansia, dan difabel.

“Jagalah fisik kita sampai kepada titik puncaknya di wukuf dan menjalankan rangkaian ibadah lainnya. Ini penting untuk menguatkan psikis para jemaah perempuan, termasuk yang risti, lansia, dan difabel,” ujarnya. (*/Red/MCH-2026)

Comments (0)
Add Comment