Musyrif Diny Jelaskan Mengenai Haji Mabrur, Minta Jemaah Tahan Godaan saat Puncak Maupun Setelah Haji

MAKKAH – Di tengah kepadatan dan kelelahan fisik saat puncak ibadah haji, Musyrif Diny Haji 2026 DR. KH. Haris Muslim mengingatkan jemaah Indonesia tentang ujian yang lebih berat, yakni godaan untuk berbuat dosa.

Menurutnya, menjaga lisan dan emosi di tengah medan haji yang berat menjadi kunci untuk meraih haji mabrur.

“Haji Mabrur itu kan haji yang secara ringkas, para ulama mengatakan haji itu haji yang tidak campur dengan dosa. Maka ketika pelaksanaan ibadah haji itu banyak sekali campur godaan kita untuk berbuat dosa,” kata dia.

Haris mengungkapkan, godaan tersebut sering kali muncul dalam bentuk sikap dan ucapan sehari-hari yang tampak sepele namun berpotensi merusak nilai ibadah.

Ia menyebut jemaah kerap diuji dengan kufur nikmat, berkeluh kesah, berdebat, hingga tidak sabar yang berujung pada umpatan dan pertengkaran.

“Seperti apa? Seperti kufur nikmat, berkeluh kesah, jidal, kita tidak sabar kemudian mengumpat, kita tidak sabar lalu bertengkar dengan teman, dan lain sebagainya. Itu adalah godaan-godaannya,” ujarnya.

Menurut Haris, jemaah haji sejatinya menghadapi dua ujian sekaligus. Pertama adalah ujian fisik menghadapi panas, kepadatan, dan kelelahan selama rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Kedua adalah ujian batin untuk tetap sabar dan menjaga diri di tengah situasi tersebut.

“Maka jemaah haji itu sebenarnya menghadapi godaan yang berat itu. Bukan hanya godaan menghadapi beratnya medan haji, tetapi bagaimana di tengah medan berat itu kita bisa tetap bersabar. Ini yang sangat berat,” tegasnya.

Haris menjelaskan, para ulama mendefinisikan haji mabrur sebagai haji yang tidak tercampur sedikitpun oleh dosa.

Untuk mencapai itu, ia menekankan pentingnya menjaga niat dan kesabaran sejak awal hingga akhir rangkaian ibadah.

“Maka pintunya adalah laksanakanlah haji sebaik mungkin dan sabarlah menghadapi semuanya. Jagalah niat kita, ikhlaskan untuk Allah SWT,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa indikator haji mabrur tidak berhenti saat prosesi puncak selesai. Dampaknya harus terlihat dalam perubahan akhlak jemaah setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

“Dan nanti selesai pelaksanaan ibadah haji kita berdampak sekali dari haji tersebut dalam akhlak kita sehari-hari. Itu adalah salah satu indikator haji yang mabrur itu,” jelasnya.

Haris menyoroti bahwa tantangan terbesar justru sering muncul setelah puncak haji berlalu. Banyak jemaah yang berhasil melewati rangkaian ibadah dengan baik, namun lengah menjaga kemabruran pada sisa waktu di Tanah Suci.

“Justru tantangan terberat kadang-kadang pasca haji. Jadi menggapai kemabruran itu sulit, tapi kadang lebih sulit lagi adalah menjaga kemabruran tersebut. Dan menjaga kemabruran itu bukan hanya ketika kita sudah pulang, tetapi kadang ketika kita masih di sini pun itu tantangannya luar biasa,” katanya.

Sekretaris Umum PP PERSIS itu berpesan kepada jemaah gelombang pertama maupun kedua yang masih memiliki waktu panjang di Makkah dan Madinah untuk memanfaatkan waktu dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Oleh karena itu kepada jemaah yang kebetulan di sini nanti gelombang kedua atau gelombang pertama yang akhir, yang waktu kepulangannya masih cukup panjang setelah selesai pelaksanaan ibadah haji, gunakanlah waktu sebaik-baiknya ketika kita berada di sana,” pesannya.

Haris menutup dengan mengingatkan agar seluruh aktivitas jemaah tidak menodai kemabruran haji yang telah diusahakan dengan susah payah.

“Aktivitas-aktivitas yang kita lakukan jangan sampai menodai kemabruran haji kita,” pungkasnya. (*/Red/MCH-2026)

Haji 2026Ibadah HajiKH. Haris MuslimMusyrif diny
Comments (0)
Add Comment