JAKARTA – Lembaga Survei Indikator merilis hasil survei bertajuk ‘Aspirasi Publik terkait UU Pemilu dan Pilkada’. Survei itu mengukur respons responden terhadap sejumlah isu yang dibahas dalam RUU pemilu, salah satu keserentakan pilkada, pileg dan pilpres.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menuturkan, mayoritas responden yaitu 63,2 persen ingin agar Pileg, Pilpres dan Pilkada tak digelar secara serentak.
“Kemudian kita tanya, pilpres, pileg, dan pilkada serentak vs tidak serentak. Yang menjawab pilihan kedua, bahwa pemilihan gubernur bupati dan wali kota dilakukan berbeda waktunya dengan pemilihan Presiden dan DPR itu mencapai 63,2 persen,” kata Burhanuddin dalam rilis virtual, Senin (8/2/2021).
Sementara itu, kata dia, 28,9 persen respons lebih memilih pemilihan gubernur, bupati, wali kota dilakukan bersamaan waktunya dengan pemilihan anggota DPR dan presiden.
Burhanuddin pun mengatakan keinginan PKS dan Demokrat agar pilkada dinormalisasi menjadi tahun 2022 dan 2023 lebih didukung oleh masyarakat mayoritas. Publik lebih setuju bahwa pilkada digelar 2022 dan 2023, bukan 2024.
Burhanuddin menjelaskan, sekitar 54,8 persen responden setuju daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis di 2022 langsung menggelar pilkada di tahun yang sama. Sementara itu, hanya 31,5 persen yang setuju daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis di 2022 menggelar pilkada di 2024.
Selain itu, survei juga menunjukkan 54,8 persen responden setuju daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis di 2023 langsung menggelar pilkada di tahun yang sama. Sementara itu, hanya 32,4 persen yang setuju daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis di 2023 menggelar pilkada di 2024.
“Jadi sebenarnya argumen beberapa partai termasuk Demokrat dan PKS yang menghendaki pileg, pilpres, dan pilkada itu tidak dilakukan di tahun yang sama mendapat dukungan publik mayoritas,” ujarnya.
Survei Indikator melibatkan 1.200 respons yang diwawancara melalui sambungan telepon pada kurun waktu 1-3 Februari 2021. Tingkat kepercayaan hasil survei 95 persen. Sementara itu, margin eror 2,9 persen. (*/Kumparan)