Wamenhaj Ajak Lari Pagi Petugas Haji, Beri Pesan Pembiasaan Hidup Sehat dan Bugar

 

JAKARTA – Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simajuntak kembali memberikan arahan kepada Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan kebugaran fisik.

Pesan tersebut terus diinternalisasi melalui program pembiasaan selama 20 hari Diklat PPIH di Asrama Haji Pondok Gede.

Dahnil optimistis program Diklat tersebut akan memberikan dampak positif bagi petugas haji.

“Saya pikir lebih baik, dan seperti saya sampaikan saya lebih optimis. Mudah-mudahan minggu terakhir itu semakin baik, terutama semakin kompak, semakin disiplin, bugar, kemudian kapasitas fiqih hajinya semakin meningkat, kemudian bahasa Arabnya, bahasa Arab Amiahnya mudah-mudahan juga lebih baik,” kata Dahnil.

Dahnil juga mengajak para petugas untuk berolahraga secara rutin dengan menyesuaikan kemampuan dan stamina masing-masing.

Dia mencontohkan aktivitas lari yang dilakukannya bersama sejumlah peserta.

“Sesuaikan dengan kapasitas dan stamina-nya saja, tadi saya dengan beberapa teman-teman 9,3 km, 1 jam, 4 putaran Asrama, Haji, dan Halim. Ayo bareng, saya tiap hari lari di sekitar rumah Bintaro, sekitar mana saja,” ujarnya.

Menurut Dahnil, program diklat 20 hari tersebut merupakan stimulus untuk membangun kebiasaan baru yang berkelanjutan, termasuk melalui kelompok pendamping yang saling mengingatkan.

“Makanya kan 20 hari ini sebenarnya kan stimulus ya, stimulus artinya untuk membangun kebiasaan. Mudah-mudahan 20 hari ini selesai nanti hari Jumat depan, itu teman-teman bisa membangun habitus baru,” katanya.

Wamenhaj menjelaskan, masa tugas PPIH berlangsung cukup panjang, yakni sekitar tiga hingga empat bulan, dengan rata-rata masa kerja sekitar 70 hingga 75 hari.

“Karena kan jadwal waktu akan bertugas itu sekitar 3 bulan, 3 bulan atau 4 bulan, karena teman-teman sebagian akan berangkat di bulan April, dan Mei kemungkinan baru kembali di sekitar bulan Juni,” jelasnya.

Dahnil menekankan pentingnya kesiapan fisik karena aktivitas ibadah haji didominasi oleh kegiatan fisik dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

“Bahkan saya kalau menghitung rata-rata jalan kaki itu bisa 30 ribu loh, 30 ribu langkah ke jarak yang paling jauh. Saya pernah menghitung misalnya jarak paling jauh itu jalan dari Arofah ke Masjidil Haram, itu bisa 25 kilometer,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan stamina perlu diiringi dengan pelurusan niat, mengingat sebagian besar layanan haji menyasar jamaah lanjut usia, khususnya perempuan lansia.

“Kenapa stamina itu penting? Kan saya udah berulang kali ya, 90 persen ibadah haji itu pasti ibadah fisik. Dan teman-teman ngurusin orang-orang lansia,” katanya. (*/Nandi)

Comments (0)
Add Comment