Matahari Itu Mulai Tenggelam

Dulu, ketika awal saya menjadi wartawan, ada satu kalimat yang sampai hari ini masih kuat menancap di dalam hati:

“Jika ada dua matahari, maka salah satunya adalah wartawan.”

Kalimat itu bukan sekadar menggambarkan betapa pentingnya keberadaan insan pers sebagai pembawa cahaya kebenaran bagi kehidupan masyarakat.

Lebih dari itu, ia menjadi motivasi dan landasan tanggung jawab moral bagi siapa pun yang memilih jalan hidup di dunia jurnalistik.

Seorang jurnalis bukan semata-mata menulis berita atau membuat opini dengan format dan gaya bahasa yang menarik.

Di balik setiap tulisan, ada tanggung jawab terhadap fakta, data, narasumber, dan logika yang menjadi dasar dari sebuah informasi.

Ketika menulis berita untuk mengonfirmasi sebuah isu yang sedang berkembang, saya selalu berusaha menghadirkan narasumber yang kredibel: jelas kompetensi keilmuannya, jelas profesinya, terverifikasi integritasnya, serta memiliki pengaruh moral dan sosial yang nyata.

Jika ada sebuah isu melahirkan pro dan kontra di masyarakat, maka kedua sisi perlu diberi ruang untuk menjelaskan pandangannya.

Bukan sekadar agar berita terlihat berimbang, tetapi agar publik memperoleh gambaran yang utuh dan dapat menilai persoalan berdasarkan fakta dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pers memang harus independen. Tidak boleh berpihak kepada kelompok tertentu, apalagi menjadi corong kekuasaan. Namun ketidakberpihakan pers bukan berarti tidak memiliki nilai.

Pers justru harus berpihak kepada nilai kebenaran, fakta, data, akal sehat, dan kepentingan publik.

Karena itu, seorang jurnalis profesional semestinya berhati-hati memilih narasumber, isu, dan cerita yang akan diangkat.

Bukan karena takut terhadap perbedaan pendapat, tetapi karena setiap panggung yang diberikan media membawa konsekuensi moral.

Jangan sampai ruang publik justru dipenuhi oleh suara yang tidak memiliki dasar fakta, integritas, dan tanggung jawab.

Namun, coba kita perhatikan keadaan sekarang.

Atas nama demokrasi dan prinsip cover both sides, media terkadang begitu bebas menyediakan panggung kepada siapa saja dan pihak mana saja yang ingin berbicara, meskipun yang dibawa hanyalah kemarahan, kebencian, kekecewaan, spekulasi, bahkan tuduhan yang belum teruji.

Panggung tetap diberikan tanpa seleksi ketat karena dianggap menarik. Rating naik. Perhatian publik terkumpul. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat semakin bingung dan ruang publik semakin bising.

Di sinilah makna demokrasi dan cover both sides mengalami pendangkalan.

Cover both sides bukan berarti semata menghadapkan dua orang yang berbeda pendapat lalu menganggap persoalan selesai. Bukan Bukan sekadar “asal ada dua sisi”.

Yang harus dipertemukan adalah dua sudut pandang yang memiliki dasar fakta, data, logika, kompetensi, dan integritas, meskipun kesimpulannya berbeda.

Demokrasi seharusnya menjadi ruang perlombaan gagasan: tempat pikiran, ide, argumentasi, dan pendapat yang berkualitas diuji secara terbuka.

Bukan sekadar perlombaan suara paling keras.

Sebab tidak semua suara layak menjadi kebenaran hanya karena diberi mikrofon. Tidak semua pendapat harus mendapatkan panggung yang sama hanya karena mengatasnamakan kebebasan.

Kebebasan berbicara membutuhkan tanggung jawab. Dan kebebasan pers membutuhkan integritas.

Dulu saya percaya, wartawan adalah pembawa cahaya, seperti matahari

Hari ini, cahaya itu terasa semakin redup.

Bukan karena mataharinya tidak ada, tetapi karena terlalu banyak kabut yang sengaja dibiarkan menutupi cahaya.

Dan ketika pers kehilangan keberanian untuk menyaring, menguji, dan mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disajikannya, maka matahari kedua itu perlahan mulai kehilangan sinarnya.

Matahari itu mulai tenggelam.

Get the feeling
Mr. Ten

Comments (0)
Add Comment