Ramadhan, UMKM dan Wajah Ekonomi Kota Serang

 

Oleh: Ari Nurrohman, Ketua PDPM Kota Serang

Ramadhan selalu menghadirkan denyut yang berbeda di Kota Serang. Jalanan lebih hidup menjelang magrib, deretan pedagang takjil tumbuh di berbagai sudut kota, masjid-masjid penuh, dan interaksi sosial terasa lebih hangat.

Namun di balik suasana religius itu, sesungguhnya ada satu dinamika penting yang patut kita cermati: pergerakan ekonomi rakyat, khususnya sektor UMKM.

Bagi Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten, Ramadhan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga momentum ekonomi. Lonjakan konsumsi rumah tangga selama bulan puasa—mulai dari kuliner berbuka, busana muslim, parsel lebaran, hingga jasa percetakan dan hampers—mendorong perputaran uang yang signifikan di tingkat lokal. UMKM menjadi aktor utama dalam pergerakan ini.

Namun pertanyaannya: apakah Ramadhan hanya menjadi euforia ekonomi musiman, atau mampu kita jadikan sebagai strategi penguatan ekonomi daerah?

UMKM Serang dan Tantangan Struktural

Realitas UMKM di Kota Serang masih menghadapi persoalan klasik: akses permodalan terbatas, pencatatan keuangan yang belum tertib, kualitas kemasan yang kurang kompetitif, serta literasi digital yang belum merata.

Ramadhan seringkali mendatangkan lonjakan permintaan, tetapi tidak semua pelaku usaha siap secara manajerial.

Banyak pedagang takjil atau kuliner musiman meraih omzet besar selama satu bulan, namun setelah Idulfitri, usaha kembali stagnan.

Keuntungan habis untuk konsumsi, bukan untuk investasi usaha. Ini menunjukkan bahwa problem kita bukan semata pada peluang, melainkan pada tata kelola.

Di sisi lain, fenomena menjamurnya bazar Ramadhan juga menyisakan isu penataan ruang kota. Tanpa pengaturan yang baik, potensi kemacetan dan ketidaktertiban bisa muncul.

Pemerintah daerah perlu hadir bukan sekadar sebagai pemberi izin, tetapi sebagai pengatur ekosistem agar UMKM tumbuh tanpa mengganggu ketertiban publik.

Ramadhan sebagai Sekolah Integritas

Ada satu aspek penting yang sering terlewat: Ramadhan adalah sekolah etika bisnis. Puasa mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan empati. Nilai-nilai ini seharusnya tercermin dalam praktik usaha—tidak menaikkan harga secara berlebihan, menjaga kualitas produk, dan memberikan pelayanan terbaik.

Kota Serang memiliki modal sosial dan religius yang kuat. Jika nilai spiritual Ramadhan benar-benar diinternalisasi, maka UMKM kita tidak hanya kompetitif, tetapi juga berkarakter. Kepercayaan konsumen akan menjadi modal jangka panjang yang jauh lebih berharga dibanding keuntungan sesaat.

Digitalisasi dan Peluang Generasi Muda

Isu lain yang relevan bagi Kota Serang adalah digitalisasi UMKM. Generasi muda di kota ini memiliki potensi besar dalam pemasaran digital, desain produk, dan branding. Ramadhan bisa menjadi laboratorium kolaborasi antara pelaku UMKM tradisional dengan anak-anak muda yang melek teknologi.

Promosi takjil melalui media sosial, pemesanan online untuk katering berbuka, hingga pembayaran digital adalah tren yang tidak bisa dihindari. Jika UMKM Serang mampu beradaptasi, maka pasar mereka tidak hanya warga sekitar, tetapi juga menjangkau lebih luas.

Di sinilah pentingnya peran komunitas, organisasi kepemudaan, dan pemerintah untuk mendorong pelatihan singkat selama Ramadhan—tentang manajemen keuangan sederhana, strategi pemasaran digital, hingga pengemasan produk. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan peningkatan kapasitas.

Dari Konsumtif ke Produktif

Ramadhan identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Di Kota Serang, potensi dana sosial ini cukup besar. Tantangannya adalah bagaimana mengelolanya secara produktif.

Bantuan bagi pelaku UMKM kecil seharusnya tidak berhenti pada santunan konsumtif, tetapi diarahkan pada penguatan modal usaha dan pendampingan.

Jika zakat dan program sosial diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi, maka Ramadhan akan benar-benar menjadi bulan pemberdayaan, bukan sekadar bulan pembagian.

Menjadikan Ramadhan Titik Awal

Kita perlu mengubah cara pandang. Ramadhan bukanlah garis finish ekonomi tahunan, melainkan titik awal pembenahan. Keuntungan selama bulan puasa harus menjadi modal untuk memperbaiki alat produksi, meningkatkan kualitas kemasan, memperluas jaringan distribusi, dan memperkuat branding.

Kota Serang membutuhkan UMKM yang naik kelas—bukan hanya ramai saat Ramadhan, tetapi stabil sepanjang tahun. Ini hanya mungkin jika nilai spiritual bertemu dengan profesionalitas.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan kita bahwa keberkahan tidak hanya diukur dari besarnya omzet, tetapi dari sejauh mana usaha kita memberi manfaat. Jika UMKM di Kota Serang tumbuh dengan integritas dan inovasi, maka bulan suci ini bukan hanya menguatkan iman, tetapi juga memperkokoh fondasi ekonomi daerah.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum kebangkitan ekonomi rakyat. Dan dari Kota Serang, kebangkitan itu bisa kita mulai.***

Comments (0)
Add Comment