Badak Jawa Mati di JRSCA Ujung Kulon Setelah Dipindahkan dari Alam Liar

 

PANDEGLANG — Seekor badak Jawa jantan dewasa bernama Musofa, yang menjadi individu ujicoba translokasi ke Fasilitas Javan Rhino Sanctuary and Conservation Area (JRSCA) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dilaporkan mati pada Kamis (27/11/2025).

Kabar duka ini menambah daftar tantangan konservasi bagi salah satu mamalia paling langka di dunia.

Musofa dipindahkan dari habitat alaminya di Semenanjung Ujung Kulon pada 3–4 November 2025.

Pemindahan ini disebut sebagai bagian dari program konservasi jangka panjang, namun tak sampai sebulan setelah translokasi, satwa tersebut menghembuskan napas terakhirnya di dalam kandang fasilitas JRSCA.

Pihak pengelola TNUK menjelaskan bahwa fasilitas tersebut merupakan lokasi penyelamatan bagi mamalia purba yang statusnya masuk dalam daftar Endangered Species IUCN.

Namun, kematian Musofa tetap memunculkan pertanyaan publik terkait penyebab dan proses pemindahannya.

Dalam keterangan resminya, Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, menyampaikan bahwa kematian Musofa bukan disebabkan oleh proses translokasi, melainkan oleh penyakit bawaan kronis yang telah lama diderita satwa tersebut.

Ia menegaskan bahwa pemindahan Musofa telah dilakukan melalui tahapan perencanaan matang dan melibatkan banyak pihak berkompeten, mulai dari para ahli konservasi satwa liar nasional dan internasional, dokter hewan, TNI, hingga para mitra konservasi.

“Translokasi ini merupakan sesuatu kebutuhan konservasi jangka panjang bagi spesies ini mengingat kondisi DNA yang sudah tidak baik lagi, sehingga perlu upaya breeding sistematis, termasuk pendekatan Assisted Reproductive Technology (ART) dan biobank bahkan untuk gen editing,” katanya dalam siaran pers, Kamis (27/11/2025).

Ardi menambahkan bahwa Musofa sebenarnya sedang menjalani masa perawatan intensif serta proses habituasi atau adaptasi terhadap lingkungan barunya di fasilitas JRSCA.

Namun, setelah melalui proses pemindahan tersebut, kondisi kesehatan Mustofa justru terus menurun. Pada 7 November 2025, satwa itu didiagnosis menderita penyakit tertentu yang kemudian makin memperburuk kondisinya.

“Tim medis pun segera memberikan penanganan darurat sesuai standar penyelamatan satwa liar,” lanjut Ardi dalam siaran pers tersebut.

Kematian Musofa kini menjadi sorotan baru dalam upaya penyelamatan badak Jawa yang populasinya sangat terbatas.

Program translokasi ini sebelumnya digadang-gadang sebagai langkah awal untuk memperluas upaya pelestarian dan meningkatkan diversifikasi genetika satwa langka tersebut.(*/ARAS)

Comments (0)
Add Comment