PANDEGLANG – Adanya kabar bencana alam Tsunami yang menerjang di sepanjang Pantai Anyer, Serang, Banten. Dengan sekejap meluluhlantahkan sejumlah bangunan permanen maupun non permanen sehingga banyak yang mengalami rusak berat, kondisi tersebut membuat banyak masyarakat yang mengalami kepanikan sehingga harus meninggalkan rumahnya dalam keadaan sepi untuk pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Seperti halnya Surna (56), salah seorang pengungsi warga dari Perumahan BTN Sentul Teluk, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dari pagi bersama keluarganya terpaksa harus meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong, karena rumahnya terendam banjir.
“Ketika tersiar kabar bahwasannya akan terjadi Tsunami menerpa wilayah sekitar Pandeglang saya bersama keluarga sangat khawatir dan panik, sehingga ketika meninggalkan rumah tidak sempat membawa apa-apa dan menyelamatkan barang yang ada dirumah,” kata Surna, salah seorang pengungsi asal Teluk, kepada faktabanten.co.id, Minggu (23/12/2018).
“Alhamdulillah kondisi keluarga selamat semua, namun tadi sempat ada insiden kepanikan yang luar biasa sehingga saya juga keluarga hanya membawa pakaian yang menempel dibadan saja tidak terfikirkan untuk dapat menyelamatkan barang-barang berharga di rumah sebelumnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Komandan Batalion Kesehatan Satu Marinir Jakarta, Mayor Muhammad Arifin adalah salah seorang petugas yang juga turut diterjunkan untuk membantu para korban pengungsian menjelaskan bahwa. Setelah apel di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dari Jakarta kita langsung bergegas untuk dapat mendirikan rumah sakit lapangan dilokasi penampungan.
“Kita perbantukan juga oleh 107 orang personil, yang juga turut dikerahkan untuk mempermudah dan membantu para korban bencana alam utamanya evakuasi para korban juga keluarganya, disini kita juga barusan mendirikan tenda saja. Tapi ada kemungkinan malam juga sudah mulai memberikan pelayanan ketika listrik sudah kembali hidup dan menerangi,” jelasnya.
M Arifin menjelaskan, rencananya besok pagi petugas dari Marinir Jakarta juga akan langsung memberikan pelayanan kesehatan bagi korban yang mengalami luk-luka serta melakukan evakuasi bagi para korban jiwa yang diperkirakan masih banyak berserakan dan belum terurus secara manusiawi.
“Di sekitar pengungsian sini ada sekitar 300 orang pengungsi, dan saat ini kondisinya mereka ada yang sedang sakit, dan bagi yang mengalami kesulitan untuk berobat kami juga sudah persiapkan semua itu bagi masyarakat korban bencana alam,” terangnya.
“Sebagai prajurit belum ada batas pasti rencana untuk kemanusiaan disini, untuk perihal itu hanya sampai menunggu ada perintah pencabutan dari atasan saja,” tandasnya. (*/Sandi/Eza Y,F).