Ini Hasil Penelitian Himala Unma Banten, Tentang Tanaman Mangrove

PANDEGLANG – Ini hasil dari Rangkaian kegiatan penelitian khasiat mangrove sebagai obat di daerah pesisir Teluk-Camara dengan dilakukan wawancara kepada masyarakat dan observasi lapangan oleh Fiqih Nur Mawadah, anggota Himpunan Mahasiswa Lestari Alam (Himala) Universitas Mathal’ul Anwar (Unma) Banten mendapatkan hasil yang sesuai target yaitu sebagai berikut:

  1. Hasil
    1. Hasil wawancara yang menunjukkan pengetahuan masyarakat mengenai mangrove sebagai bahan obat yang akan dilampirkan pada laporan ini.
    2. Mendapatkan sampel dari beberapa jenis mangrove yang berupa dokumentasi yang juga akan dilampirkan.
    3. Dokumentasi kegiatan.

Tujuan pengumpulan data dari setiap penilitian adalah agar mempermudah dalam penarikan kesimpulan sehingga data dapat dikoreksi kebenrannya dan dapat dilakukan penelitian lanjutan.

  1. Pembahasan
  1. Observasi Daerah Teluk
  •  

Penelitian ini dilakukan selama empat hari tiga malam yang di mulai dengan melakukan observasi di daerah pesisir Teluk yang mana tepat pada pukul 10:40 WIB di daerah tersebut peneliti langsung menuju rumah ketua RT sebagai target utama sesuai dengan SOP peneliti, namun ketua RT 01 tersebut mengatakan bahwa beliau kurang paham mengenai mangrove, ia hanya pernah mengetahuinya ditelevisi dan tidak pernah melihat secara langsung karna didaerah tersebut ia tak pernah menjumpai tanaman-tanaman pesisir terutama jenis mangrove. Kemudian peneliti langsung mendatangi kediaman kepala dusun Teluk karena berdasarkan informasi, di daerah tersebut sudah tidak ada lagi yang sering dianggap kasepuhan sehingga peneliti mengambil solusi untuk mencari rumh kepala dusun. Tepat pada pukul 10:50 WIB peneliti mewawancarai pak Carudi sebagai kepala dusun, peneliti menanyakan beberapa hal mengenai mangrove dengan menunjukkan buku panduan yang berisi gambar-gambar mangrove dengan tujuan agar informan dapat mengenali dengan melihat gambarnya, namun kepala dusun tersebut mengatakan bahwa ia tak pernah melihat tumbuhan-tumbuhan tersebut di daerah Teluk, hanya saja ia pernah mengetahui nya di daerah yang lain tanpa mengetahui fungsi dan manfaatnya. Ia hanya menyarankan untuk datang ke desa Tanjung Sari karena didaerah tersebut terdapat sebuah muara kecil.

Peneliti langsung menuju kampung Pasir Tanjung dengan harapan ada masyarakat yang mengetahuinya. Peneliti langsung menuju kediaman ketua RT 02 yang kebetulan hanya ada istri dari ketua RT tersebut yaitu ibu Lina Herlina setelah peneliti menunjukkan beberapa gambar mangrove ia mengatakan bahwa ia mengetahui tumbuhan mangrove beserta jenis-jenis nya karena pada 15-20 th yang lalu didaerah pesisir Teluk pernah ada jenis tumbuhan mangrove, bahkan ia mengetahui bahwa mangrove sangat berperan dalam menjaga pesisir dari abrasi, namun ia tidak pernah tahu kapan dan mengapa mangrove di daerah tersebut habis dan hilang. Tak lupa peneliti melakukan survei mangrove di muara Pasir Tanjung, namun peneliti tak menjumpai satu jenis pun mangrove yang hidup disana. Peneliti juga berjumpa dua orang nelayan yang tinggal dipinggir muara tersebut, namun mereka mengatakan bahwa muara ini bertanah pasir sehingga tidak ada jenis mangrove yang dapat tumbuh, karena sepengetahuan mereka bahwa mangrove hanya dapat tumbuh di daerah berlumpur.

  1. Observasi Daerah Cibungur
  •  

Daerah Cibungur kec. Suka Resmi merupakan daerah dengan beberapa muara, diantaranya adalah muara Cibungur. Informan pertama yang dituju adalah ketua RT 02 yaitu bapak Armin. Peneliti menanyakan perihal mangrove, dan informan langsung memberikan respon yang baik, ia mengetahui banyak jenis mangrove yang terdapat di daerah Cibungur diantaranya adalah : pidada, jeruju, api-api, lembang, dan daon. Ia bahkan tau bahwa salah satu kegunaan mangrove adalah untuk menjaga keutuhan pesisir, selain itu mangrove memiliki banyak manfaat diantaranya buah pidada yang dapat dinikmati sebagai makanan, dan juga daun daon yang sering mereka gunakan sebagai atap rumah. Namun setelah peneliti menanyakan khasiatnya sebagai obat informan tidak mengetahuinya dan memang belum pernah ada sebelumnya.

Informan selanjutnya adalah ketua RT 02 namun yang sedang berada kediamannya hanyalah istrinya, setelah kita menanyakan perihal mangrove beliau tidak mengetahui sama sekali. Rumah kasepuhan yang menjadi target selanjutnya, namun kasepuhan sedang tidak berada dirumah. Akhirnya peneliti menanyai beberapa pengembala sapi disekitar muara, mereka mengetahui mengenai mangrove namun mereka tidak paham mengenai pemanaatannya terutama sebagai obat.

  1. Observasi Daerah Panimbang
  •  

Panimbang merupakan daerah dengan hutan mangrove terbanyak dan terluas, peneliti langsung menuju sebuah dermaga dimana banyak para nelayan sedang beraktivitas di sebuah muara, namun beberapa dari mereka bukanlah asli pribumi. Peneliti tetap menanyakan beberapa hal mengenai mangrove kepada 2 diantara mereka yaitu pak suyatno dan pak hariyanto yang berasal dari Brebes. Mereka banyak tau mengena hutan mangrove yang didaerah mereka dibuat secara sengaja oleh pemerintah untuk menjaga keutuhan pesisir dan bahkan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata. Peneliti sempat mengambil bibit Avicenia alba dimuara tersebut.

Peneliti sengaja mencari informan yang dekat dengan muaranya dengan harapan mereka sedikit banyaknya  mengetahui tentang mangrove. Kemudian peneliti melanjutkan observasi dimuara selanjutnya dengan mewawancarai pemilik warung dipinggir muara, sedikit banyak ia mengetahui jenis-jenis mangove diantaranya : hibeta, daon, bakau, dan api-api. Setelah peneliti menanyakan manfaatnya terutama sebagai obat informan tidak mengetahuinya, namun salah satu pengunjung mengatakan bahwa ia mengetahui beberapa khasiatnya. Buah daon selain dimakan buahnya yang memiliki rasa seperti kolang-kaling, buah ini juga diketahui dapat dijadikan sebagai obat mata, dengan cara dibelah buahya dan diteteskan getahnya. Getah dari buah daon ini dipercaya dapat membersihkan mata yang kotor dan juga mata merah.

Observasi dilanjutkan disebuah villa saung jagung yang merupakan stasiun riset ALABAMA, peneliti hanya menjumpai penjaga villa karena pemiliknya sedang tidak ditempat. Peneliti menanyakan beberapa hal mengenai mangrove, dan informan hanya mengetahui jenis-jenis nya yang tumbuh disekitar villa tersebut seperti bakau, api-api, pidada dan daon tanpa mengetahui khasiatnya sebagai obat-obatan.

  1. Observasi Daerah Tanjung Jaya

Didaerah tanjung jaya peneliti melakukan wawancara kepada salah satu penduduk yang bernama Ardin Hidayat. Ia mengetahui banyak hal mengenai mangrove mulai dari jenis, fungsi dan juga khasiatnya sebagai obat-obatan. Diantara yang ia ketahui adalah getah dari pohon bakau yang bisa dijadikan obat kulit yaitu untuk mrngobati alergi yang sering timbul di kulit seperti gatal-gatal. Dan juga jenis lain seperti Lumnitzera dapat direbus sebagai jamu godok untuk mengobati sakit badan.

Kemudian peneliti juga mewawancarai ketua RT dan RW desa Cipanon, mereka hanya mengetahui jenis-jenis dan fungsinya tanpa mengetahui khasiatnya sebagai bahan obat.

  1. Observasi Daerah Camara

Daerah camara memiliki hutan mangrove yang masih banyak jumlahnya. Terdapat beberapa jenis-jenis mangrove di pesisir pantai Camara yang tumbuh ditanah pasir yaitu : bakau, api-api dan pidada. Informan didaerah Camara adalah ketua RT 01 yaitu bapak Aswari dan kasepuhan serta beberapa masyarakat yang sedang berkumpul, mereka semua hanya mengetahui beberapa jenis dan fungsinya tanpa mengetahui khasiatnya sebagai obat.

  1. KESIMPULAN

Mangrove merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki peranan penting bagi masyarakat pesisir terutama karena akarnya yang kokoh mampu menopang air laut dan mencegah abrasi, selain itu juga sebagai salah satu tempat untuk menjaga ekosistem air laut.

Dari hasil observasi khasiat mangrove sebagai bahan obat oleh masyarakat pesisir dapat disimpulkan bahwa sebagian kecil dari masyarakat pesisir tidak mengetahui apa itu mangrove, dan apa manfaatnya. Sebagian lagi banyak masyarakat yang mengetahui mangrove mulai dari jenis-jenis, fungsi, dan juga manfaatnya, namun diantara sekian informan hanya dua orang yang mengetahui manfaatnya sebagai obat. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kurangnya pendidikan masyarakat mengenai mangrove, sedangkan para peneliti-peneliti hanya melakukan observasi tanpa menyebarluaskan informasi kepada masyarakat pesisir khususnya. Sehingga mereka tidak banyak mengetahui tentang khasiat mangrove.

  1. SARAN

Masyarakat pesisir adalah salah satu penopang kehidupan bagi masyarakat lainnya karena baik buruknya yang mereka lakukan terhadap pesisir dan laut sangat mempengaruhi masyarakat lainnya. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya dengan harapan bahwa penelitian ini dapat mendapatkan hasil yang maksimal dan dapat bermnfaat bagi masyarakat pesisir khususnya.

Menyadari kurangnya wawasan masyarakat terhadap mangrove, peneliti sangat menyarankan agar peneliti selanjtutnya dapat memberi dan membagikan informasi mengenai hutan mangrove kepada masyarakat pesisir khusunya, karena masyarakat memiliki harapan besar kepada peneliti-peneliti muda agar memberikan manfaat bagi mereka dan anak cucu mereka.

Jika terjadi kerusakan dipesisir tidak sepenuhnya yang dapat disalahkan adalah masyarakat yang tidak memiliki wawasan, namun para peneliti mudalah yang seharusnya dapat menyebarluaskan pengetahuannya kepada masyarakat. Tidak ada kehidupan suatu makhluk tanpa kehidupan makhluk lainnya. (***) 

HIMALA UNMAMangrove
Comments (0)
Add Comment