SERANG – Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) Kabupaten Serang mencatat sebanyak 68 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2025 hingga Juli ini.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan kasus kekerasan seksual, dengan korban didominasi anak di bawah usia 15 tahun.
Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Serang, Encup Sopia, dalam peringatan Hari Anak Nasional ke-41 tingkat Kabupaten Serang, yang digelar pada Rabu, (23/7/2025).
“Kasus sampai hari ini ada 68, 10-nya itu perempuan, dan sisanya anak-anak. Kasusnya banyak di kekerasan seksual, bully tidak banyak. Usia korban banyak di 15 tahun ke bawah,” ungkap Encup Sopia.
Peningkatan kesadaran anak sebagai pelapor maupun pelopor, menurutnya, menjadi salah satu indikator keberhasilan sosialisasi yang selama ini dilakukan pihaknya.
KBPPPA bekerja sama dengan berbagai pihak seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga sekolah dalam upaya pencegahan kekerasan.
“Kita melakukan sosialisasi langsung ke desa, RT, RW, sampai ke sekolah. Kita juga gandeng kader KB, forum anak, hingga PIK Remaja. Untuk anak-anak lebih mudah dijangkau dibanding orang tua,” katanya.
Encup menyebut salah satu faktor yang mendorong terjadinya kekerasan seksual adalah akses anak terhadap konten negatif melalui gawai.
Ia menekankan pentingnya pengawasan penggunaan handphone di rumah maupun di sekolah.
“Penyebab pelaku anak-anak itu dari handphone. Ia bisa melihat film online, rata-rata dipegang sama mereka. Makanya kita di sekolah hindari megang handphone, di rumah juga dibatasi,” terangnya.
Dalam peringatan Hari Anak Nasional kali ini, Dinas KBPPPA bekerja sama dengan Baznas Kabupaten Serang menghadirkan 1.510 peserta.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momen refleksi sekaligus penguatan bagi anak-anak agar semakin berani melapor dan sadar akan hak-haknya.
Meski jumlah kasus menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 158 kasus, Encup berharap tren ini terus menurun seiring intensifnya edukasi dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Mudah-mudahan tidak ada peningkatan lagi. Mungkin dari hasil sosialisasi dan keberanian anak-anak untuk melapor,” pungkasnya. (*/Fachrul)