Ahli Gizi Tentukan Menu MBG, SPPG Cipocokjaya Banjarsari 1 Fokus Jaga Kualitas Makanan

 

SERANG – Pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cipocok Jaya Banjarsari 1, Sri Hartini, menegaskan bahwa seluruh proses penyediaan makanan untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan berdasarkan arahan ahli gizi.

Hal ini, untuk memastikan kualitas gizi dan variasi menu tetap sesuai kebutuhan penerima manfaat.

Menurut Sri Hartini, peran ahli gizi menjadi kunci utama dalam penentuan menu harian hingga bulanan.

“Untuk menu itu ditentukan oleh ahli gizi. Kami sebagai mitra atau pengelola dapur hanya menyampaikan permintaan bahan baku sesuai arahan ahli gizi kepada supplier,” ujarnya saat ditemui, Jumat (12/12/2025).

Sri menjelaskan, setiap hari menu yang disajikan berbeda-beda agar anak-anak tidak merasa bosan.

“Ahli gizi membuat menu mingguan, dua mingguan, dan bulanan. Kami juga berkoordinasi agar menu tetap seimbang gizinya sekaligus menarik bagi anak-anak,” katanya.

Dalam proses produksi makanan MBG, Sri mengakui terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam hal efisiensi waktu.

“Tantangan utama tentu pada pengelolaan waktu. Dengan jumlah porsi yang besar, kami harus memastikan makanan tetap layak dan tidak basi saat tiba di penerima manfaat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perhitungan waktu memasak, pemorsian, hingga distribusi harus direncanakan dengan matang.

“Semua harus diperhitungkan sejak awal agar kualitas makanan tetap terjaga,” katanya.

SPPG Cipocok Jaya Banjarsari 1 saat ini melayani sebanyak 2.954 penerima manfaat.
Jumlah tersebut terdiri dari 2.617 siswa tingkat TK, SD, dan SMP, serta 72 ibu hamil dan menyusui, dan 265 balita usia 3–5 tahun.

Sebelumnya, jumlah penerima manfaat sempat mencapai 3.935 orang sebelum dilakukan redistribusi ke dapur MBG lainnya sesuai kebijakan pemerintah.

“Dengan adanya kebijakan dapur percepatan, sebagian penerima manfaat kami alihkan ke SPPG Cipocok Jaya Banjarsari 4 agar distribusi lebih merata,” jelas Sri.

Untuk memastikan kelancaran pelaksanaan program MBG, Sri mengatakan pihaknya terus menjalin koordinasi intensif dengan pihak sekolah.

“Di setiap sekolah ada PIC (person in charge) khusus yang menangani MBG. Kami punya grup WhatsApp dengan penerima manfaat dan juga rutin melakukan home visit,” tuturnya.

Selain itu, komunikasi juga dilakukan saat sekolah memiliki agenda khusus.

“Misalnya ada kegiatan seperti kelas meeting atau ujian, sekolah akan memberi tahu agar kami menyesuaikan jenis makanan, biasanya berupa makanan kering,” imbuhnya.

Koordinasi yang baik ini, lanjut Sri, menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program MBG agar tepat sasaran dan berjalan sesuai harapan.

“Kami selalu siap berkoordinasi, baik lewat grup, langsung ke sekolah, atau kunjungan lapangan jika dibutuhkan,” pungkasnya.***

Comments (0)
Add Comment