SERANG – Hujan deras yang mengguyur Kota Serang secara terus-menerus pada Minggu 11 Januari 2036 menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, terutama di lingkungan Sepang dan Kuranji, kecamatan Taktakan Kota Serang.
Mengetahui hal itu, Anggota DPRD Kota Serang Fraksi Gerindra, Edi Santoso bersama warga gotong royong membenahi aliran sungai yang banyak sampah.
Edi Santoso menilai salah satu penyebab utama banjir adalah kondisi Situ Cikulur yang kini terbengkalai dan tidak terawat.
Menurutnya, situ tersebut harus segera dinormalisasi dan difungsikan kembali sebagai daerah tampungan air alami.
“Situ Cikulur harus dinormalkan dan dibangun kembali. Di situ banyak tanah situ yang terbengkalai dan tidak dirawat. Balai harus turun tangan dan menangani secara serius,” tegas Edi, Minggu (11/1/2026).
Selain normalisasi, Edi juga mendorong agar pemerintah membuat kebijakan tegas dalam perizinan perumahan.
Ia menekankan bahwa setiap pengembang wajib menyediakan embung atau kolam resapan air, sebagai upaya mencegah genangan saat curah hujan tinggi.
“Banjir juga disebabkan banyak daerah resapan yang sudah didirikan perumahan, tanpa embung resapan. Jadi ke depan, setiap perumahan harus diwajibkan membuat embung,” ujarnya.
Politisi Gerindra itu juga menyoroti maraknya alih fungsi lahan dan pembalakan hutan di daerah hulu sungai.
Ia menilai aktivitas tersebut memperparah kondisi banjir di wilayah bawah, termasuk Kota Serang.
“Banyak bukit yang digali dan dialihfungsikan. Ini harus ditertibkan, karena berdampak langsung pada banjir di bawahnya,” tambah Edi.
Tak hanya soal resapan air, Edi juga meminta agar pengembang perumahan turut menyediakan lahan untuk bank sampah atau TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle). Langkah ini dinilai penting untuk mencegah warga membuang sampah ke sungai yang bisa memperparah banjir.
“Setiap perumahan juga harus menyiapkan lahan untuk bank sampah atau TPS3R, jadi masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai,” pungkasnya. ***