SERANG – Permintaan telur di Pasar Induk Rau, Kota Serang, mengalami penurunan seiring perubahan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini lebih banyak menggunakan bahan pangan daging.
Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan harga serta omzet para pedagang.
Salah satu pedagang sembako di Toko PD Dua Saudara, Muhyi, menjelaskan bahwa penurunan permintaan mulai terasa sejak kebutuhan telur untuk program MBG berkurang.
Sebelumnya, program tersebut menjadi salah satu penopang utama penjualan telur di pasar.
“Dulu, saat kebutuhan MBG masih tinggi, penjualan bisa mencapai ratusan kilogram. Sekarang menurun, karena sebagian besar sudah beralih ke daging,” ujar Muhyi, Selasa (7/4/2026).
Turunnya permintaan berdampak langsung pada omzet pedagang dalam beberapa hari terakhir. Penjualan tidak lagi sebesar ketika permintaan dari program MBG masih tinggi.
Selain itu, stok telur di lapak pedagang kini cenderung menumpuk. Perputaran barang menjadi lebih lambat akibat berkurangnya jumlah pembeli.
“Barang masih ada, tidak cepat habis. Permintaan juga sedang sepi,” katanya.
Menyikapi kondisi tersebut, pedagang kini lebih berhati-hati dalam menambah stok untuk menghindari kerugian akibat penumpukan barang.
Saat ini, harga telur ayam berada di kisaran Rp29.000 per kilogram dan diperkirakan akan kembali mengalami penurunan dalam waktu dekat.
“Sekarang di Rp29.000 per kilogram. Kemungkinan besok turun lagi ke Rp28.000,” ucapnya.
Tak hanya telur ayam, penjualan telur bebek dan telur puyuh juga mengalami penurunan.
Stok yang belum terserap pasar membuat pedagang harus menyesuaikan jumlah pasokan.
“Telur bebek juga sama, menumpuk. Telur ayam negeri juga turun semua,” tutupnya.***