Lomba Mewakili Rakyat

*) Oleh: Mokhlas Pidono

Wakil rakyat, seharusnya merakyat,
Jangan tidur, waktu sidang soal rakyat,

Wakil rakyat, bukan paduan suara,
Hanya tau nyayian lagu “setuju..”

BEGITULAH kira-kira bait lagu wakil rakyatnya Iwan Fals saat masih kritis dulu. Sebuah gambaran akan harapan masyarakat kepada para wakilnya yang duduk di kursi legislatif mulai dari yang duduk di kursi Senayan, sampai di kursi DPRD Kabupaten dan Kotamadya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa masa kampanye sudah berlangsung dan semakin mendekati pemilihan pada 17 April 2019 mendatang. Partai peserta pemilu yang terdiri dari 16 partai nasional dan 4 partai lokal di Nangroe Aceh Darussalam akan bertarung pada perhelatan pesta Pemilu kali ini.

Nama-nama calon legislatif yang dijagokan dari masing-masing partai sudah agresif bergerak merebut hati masyarakat, mulai dari menteri pada kabinet kerja, sampai figur biasa yang tak dikenal masyarakat luas, mulai dari incumbent sampai pendatang baru, birokrat hingga anak pejabat dan konglomerat, semua mulai mencuat dan menyatakan optimis akan dipilih untuk mewakili rakyat.

Selayaknya lomba, partai berebut mencari figur yang bisa mereka “jual” kepada masyarakat agar dapat merebut kursi yang mereka incar dan mencapai target yang dibebankan oleh partai, mulai simpatisan militan sampai kader instant bermunculan bak jamur di musim hujan.

Banten misalkan, Ranta Soeharta yang masih menjabat Sekretaris Daerah pada saat pendaftaran rela meninggalkan jabatannya sebagai birokrat nomor 1 di Pemerintah Provinsi ke Banten dan banting setir merengkuh mimpi menduduki kursi DPR RI yang konon kabarnya ditempatkan di daerah pemilihan (Dapil) neraka yakni Dapil Banten 2 yang meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Dapil ini juga menepatkan Amir Syamsudin (Demokrat), Yandri Susanto (PAN) peraih suara terbanyak pada Pemilu 2014 dengan lebih dari 51 ribu suara, Desmond J Mahesa (Gerindra), Ichsan Soelistio (PDIP), Kartika Yudhisti (PPP) yang merupakan putri mantan Menteri Agama Suryadharma Ali, bahkan mantan Walikota Serang Tb Haerul Jaman pun berlaga pada perebutan kursi DPR RI.

Di tingkat Provinsi, sebut saja Sulhi Choir yang juga mantan Wakil Walikota Serang 2013-2018 berjuang merebut Kursi DPRD Provinsi Banten bersaing dengan anggota legislatif petahana DPRD Kota maupun Kabupaten di Banten yang naik kelas ke DPRD tingkat 1, selain Sulhi, ada Erwan Kurtubi mantan Bupati Pandeglang dan Heryani mantan Wakil Bupati Pandeglang yang sama-sama bergerak berebut kursi DPRD Provinsi.

Menarik untuk disimak, betapa hebatnya magnet senayan dan kursi empuk legislatif baik pusat maupun daerah untuk diperebutkan yang konon katanya dalam rangka mewakili aspirasi rakyat di daerah pemilihannya.

Dari Pemilu ke Pemilu, mulai tahap penjaringan bakal Caleg hingga masa pemilihan, banyak yang tebar pesona. Sementara untuk petahana, di waktu sengganggnya selama 5 tahun masa mewakili konstituennya, hampir jarang sekali kelihatan batang hidungnya menyambangi para pemilih di daerahnya. Apakah rakyat merasa terwakili atau tidak aspirasinya, tentu saja jawabannya ada pada masyarakat di daerah pemilihannya sendiri.

Terasa atau tidak kontribusi selama masa jabatannya, mereka bisa menilai dengan bijaksana, mana yang membela dan mana yang hanya mengeluarkan dalih mewakili mereka tanpa terasa kontribusi bagi rakyat yang diwakilinya.

Bagi masyarakat yang sudah mulai cerdas dalam memahami politik, harusnya bisa menilai dan memilih yang terbaik, yang memiliki dedikasi, kualitas, integritas serta berjuang sekuat tenaga untuk memberikan karya terbaik bagi masyarakatnya, itulah yang kita pilih. Jangan sampai kita memilih wakil rakyat yang bermain politik uang, memberi receh sekedar syarat dan sesaat agar bisa menjadi wakil rakyat, setelah terpilih tak nampak karya dan perjuangannya sampai waktu pemilu berikutnya kembali dihelat.

Ibarat lomba, ada yang curi start, ada yang pindah tim dalam waktu singkat, ada yang mulai pemanasan agar tak kram otot dan urat, ada yang sudah mulai mengintip kekuatan lawan, strategi dan mulai merancang strategi untuk mengalahkan lawannya, yang terpenting jika dalam lomba ada istilah fair play, maka seharusnya dalam perlombaan merebut hati rakyat untuk menitipkan kursi legislatif juga harus mengedepankan prinsip fair play.

Tugas partai bukan hanya merebut kursi sebanyak-banyaknya, melainkan sejatinya juga bisa memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, menjadi contoh yang baik bahwa persaingan tak harus selalu mengedepankan uang dan kecurangan.

Lomba menjadi wakil rakyat sudah dimulai, siapa nanti pemenangnya, kita lihat saja. Semoga mereka yang terpilih adalah yang punya niat tulus memperjuangkan rakyatnya, bukan memperjuangkan rayat (istri, keluarga dalam bahasa Serang) semata. (***)

*) Penulis adalah warga Kota Serang, Pengurus Perkumpulan Buya Cahaya Indonesia (PBCI) / Dok
Pemilu 2019
Comments (0)
Add Comment