SERANG – Penemuan seekor mamalia laut yang terdampar di Pantai Bandulu, Anyer, Selasa (26/8/2025) kemarin sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai jenis hewan tersebut.
Dari ciri fisik, hewan yang menyerupai lumba-lumba itu terlihat berbeda dengan jenis yang biasa ditemukan di perairan Banten.
Untuk memastikan identitasnya, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang melakukan penelaahan mendetail, mulai dari pemeriksaan foto lapangan hingga diskusi dengan para ahli penanganan biota laut.
Hasilnya, hewan tersebut dipastikan merupakan pesut laut (Orcaella).
Salah satu petugas LPSPL Serang, Fitrian Dwi Cahyo, menjelaskan bahwa identifikasi ini dilakukan melalui kajian visual dan perbandingan dengan karakteristik spesies sejenis yang pernah ditangani sebelumnya.
“Terkait jenis biota yang terdampar dari foto di lapangan, dan mendiskusikan dengan yang berpengalaman dalam penanganan biota terdampar jenis tersebut, termasuk ke dalam jenis pesut (Orcaella),” ungkap Fitrian.
Lebih lanjut, Fitrian menerangkan bahwa keputusan identifikasi tersebut didasarkan pada beberapa tanda khas yang terlihat jelas dari dokumentasi lapangan.
Menurutnya, bentuk tubuh pesut memiliki ciri unik yang membedakannya dari lumba-lumba pada umumnya.
“Justifikasinya dilihat pada, ada lengkungan semacam leher pada foto yang ada di pesut, serta sirip punggung (sirip dorsal) berukuran kecil dan agak ke belakang,” jelasnya.
Selain membahas ciri fisiknya, Fitrian juga menyinggung tentang habitat alami pesut.
Selama ini, masyarakat mengenal hewan tersebut lebih hidup di perairan tawar seperti jenis Pesut Mahakam,
Namun, berdasarkan literatur ilmiah, pesut ternyata juga dapat ditemukan di perairan laut dengan kadar garam yang lebih tinggi.
“Tetapi ada referensi yang menginformasikan persebaran habitat pesut tidak hanya di perairan tawar, tetapi juga di perairan laut,” ujarnya.
Meski identifikasi sudah jelas, penyebab hewan tersebut terdampar masih menjadi tanda tanya.
Fitrian menekankan bahwa keterdamparan mamalia laut merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik kondisi lingkungan maupun kesehatan hewan itu sendiri.
“Ini perlu ada penelitian lanjutan, penyebab keterdamparan bisa dipengaruhi banyak faktor,” katanya.
Di sisi lain, Fitrian memberikan apresiasi terhadap masyarakat pesisir yang segera mengambil langkah cepat dalam menangani biota laut terdampar dalam kondisi mati tersebut.
Ia menilai tindakan penguburan yang dilakukan warga sudah tepat untuk menghindari dampak lingkungan maupun penyebaran penyakit.
“Kami mengapresiasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat sudah tepat, melakukan penanganan dengan cara langsung dilakukan penguburan,” pungkasnya. (*/ARAS)