SERANG – Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang (UMPAM) Kampus Serang memberikan pelatihan akutansi bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada November 2025.
Mengingat era ekonomi digital saat ini, manajemen keuangan menjadi keharusan bagi para pelaku UMKM.
Pelatihan ini juga dilakukan agar mendorong para pelaku UMKM bisa naik kelas dan mengembangkan usaha.
Ketua Kelompok Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat (PMKM) Prodi S1 Akuntasi UNPAM, Dwi Nurul Hidayat mengungkapkan, sistem keuangan menentukan terhadap kesuksesan usaha.
“Terkadang yang membuat gagal berkembangnya UMKM bukan karena kurangnya penjualan, melainkan karena lemahnya pencatatan keuangan mereka,” ujar Dwi Nurul Hidayat, dalam keterangannya kepada media, Senin (22/12/2025).
Terlebih, kata Dwi, masih ditemukan pengelolaan arus kas dan pencatatan transaksi keuangan yang masih tercampur dengan keuangan pribadi pelaku UMKM.
Adapun materi yang diberikan seputar Sistem Informasi Akuntansi (SIA) sederhana.
Sistem ini merupakan alat atau metode untuk mengumpulkan, menyimpan, dan mengolah data keuangan menjadi laporan yang berguna bagi pengambilan keputusan.
Bagi UMKM, manfaat utamanya meliputi pemisahan kas, dimana dapat membantu dipisahkannya harta pribadi dan aset bisnis.
Kemudian transparansi real-time, yang mana untuk mengetahui posisi keuntungan atau kerugian setiap saat.
Selain itu juga, pelatihan membahas mengenai akses permodalan, efisiensi operasional yang bermanfaat, agar laporan keuangan pelaku UMKM menjadi rapih yang pada akhirnya dapat berguna untuk mengajukan kredit perbankan atau investasi.
“Bermanfaat juga untuk mengurangi risiko kesalahan manusia dalam perhitungan manual,” ujarnya menjelaskan.
Untuk langkah praktis penerapan SIA sederhana, Dwi dan kelompoknya berfokus mengajarkan siklus akuntansi yang telah disederhanakan agar mudah diterapkan oleh pemilik usaha, walaupun tanpa memiliki latar belakang akuntan.
Langkah penerapannya berupa identifikasi dan dokumentasi bukti transaksi, dimana segala bentuk uang masuk dan keluar harus memiliki bukti sah yang berupa nota, kuitansi, atau struk digital.
“Tanpa bukti, sebuah transaksi dianggap tidak pernah terjadi. Simpanlah bukti ini secara kronologis,” ujarnya.
Mengenalkan Pencatatan Jurnal Harian.
Pada bagian ini, menggunakan aplikasi sederhana atau buku kas digital. Setiap transaksi, kata dia, harus dicatat berupa tanggal, kategori penjualan atau pembelian maupun biaya, dan nominal.
“Saat ini, tersedia banyak aplikasi gratis seperti BukuKas atau Si APIK (besutan Bank Indonesia) yang dirancang khusus untuk UMKM,” jelasnya.
Kemudian klasifikasi biaya dan penyusunan laporan keuangan sederhana. Dimana pelaku UMKM harus mampu membedakan antara biaya produksi, biaya operasional, dan gaji Pemilik.
“Banyak pelaku usaha lupa menggaji diri sendiri, sehingga keuntungan bersih yang terlihat sebenarnya semu,” jelasnya.
Dalam pelatihan, terdapat hambatan utama berupa kedisiplinan. Pencatatan, kata dia, seringkali ditunda hingga menumpuk.
“Solusinya adalah ‘Catat Saat Itu Juga’. Dengan memanfaatkan smartphone, pencatatan bisa dilakukan segera setelah transaksi terjadi di depan pelanggan,” ujarnya.
Pelatihan ini juga bisa mendorong pelaku UMKM untuk mulai bermigrasi dari pencatatan kertas ke aplikasi berbasis cloud.
“Dengan sistem cloud, data keuangan Anda aman, tidak hilang jika buku basah atau ponsel rusak, serta dapat diakses dari mana saja,” tutupnya.
Pemilik UMKM Serba Ikan Fresh, Ibu Waranugrahani, mengaku terbantu dengan Penerapan Sistem Informasi Akuntansi (SIA) sederhana yang dikenalkan mahasiswa UNPAM.
Waranugrahani meyakini bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal transformasi UMKM miliknya dari usaha tradisional menuju manajemen profesional.
“Dengan data keuangan yang akurat, kami pelaku UMKM tidak lagi menebak-nebak kondisi bisnis, melainkan melangkah pasti berdasarkan angka. Kami diajarkan mulai mencatat, karena setiap rupiah dalam bisnis sangatlah berharga,” tuturnya. (*/Red)