TANGERANG – Literasi keuangan menjadi keterampilan dasar yang penting dikenalkan sejak usia dini.
Namun, masih banyak siswa sekolah menengah pertama yang belum memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan serta belum memiliki kebiasaan menabung secara terarah. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu perilaku konsumtif di masa depan.
Melihat hal tersebut, mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) melalui program Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat (PMkM) menggelar kegiatan bertajuk Petualangan Edukasi Keuangan Kreatif Bersama SMP Islam Nusantara beberapa waktu lalu.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai konsep dasar pengelolaan keuangan, khususnya dalam membedakan kebutuhan dan keinginan serta pentingnya menabung di bank,” ujar Ketua PKM, Pingkan Nila Adzani dalam keterangannya, Jumat, (6/2/2026).
Lanjut ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa menggunakan metode pembelajaran kreatif berupa bermain peran (role play) dengan simulasi sebagai penjual dan pembeli.
“Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak terlibat langsung dalam situasi jual beli sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
“Setiap siswa diberikan peran serta sejumlah uang simulasi yang harus dikelola untuk membeli barang yang tersedia, selama simulasi berlangsung, siswa diarahkan menentukan barang yang termasuk kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Setelah permainan, dilakukan diskusi interaktif agar siswa dapat merefleksikan keputusan yang diambil,” lanjutnya.
Lebih lanjut, pendekatan ini dinilai efektif karena siswa belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menerima materi secara pasif.
“Selain itu, siswa juga mendapatkan edukasi mengenai cara menabung di bank, mulai dari pengenalan konsep dasar perbankan, manfaat menabung, hingga tahapan sederhana membuka rekening tabungan,” ujarnya.
Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami serta contoh konkret yang dekat dengan kehidupan mereka.
Antusiasme siswa terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya, berpartisipasi dalam permainan, serta mampu menjelaskan kembali perbedaan kebutuhan dan keinginan serta alasan pentingnya menabung sejak dini berdasarkan evaluasi tanya jawab yang dilakukan.
“Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi keuangan dapat disampaikan secara kreatif dan partisipatif sehingga lebih mudah dipahami siswa,” ujarnya.
Melalui program PMkM ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator pembelajaran yang dekat dengan masyarakat.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tumbuh menjadi generasi yang bijak dalam mengelola keuangan.
Sementara itu, Kepala Yayasan, Dra. Lies Sundari, mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai kontribusi nyata mahasiswa dalam meningkatkan literasi keuangan sejak usia sekolah.***