TANGERANG – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) terus memperkuat langkah-langkah konkret dalam pengendalian banjir, salah satunya melalui pendekatan kolaboratif lintas wilayah dan penguatan infrastruktur di titik-titik rawan.
Strategi ini dilakukan sebagai respons terhadap kompleksitas persoalan banjir yang tidak hanya bersumber dari faktor lokal, melainkan juga aliran air kiriman dari wilayah lain, Sabtu (2/8/2025).
Dalam upaya memperkuat penanganan banjir secara menyeluruh, Pemkot Tangsel menempatkan kerja sama antarwilayah sebagai salah satu elemen utama.
Wilayah seperti Bogor, Depok, dan Kota Tangerang kerap menjadi sumber aliran air yang bermuara ke kawasan Tangsel, menyebabkan luapan di sejumlah permukiman saat musim hujan datang.
“Perlu ada harmonisasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota-kabupaten untuk bersama-sama menangani banjir ini dari hulu ke hilir,” ujar Wakil Walikota Tangsel Pilar Saga Ichsan.
Penegasan tersebut sekaligus menjadi ajakan terbuka kepada seluruh pemangku kepentingan agar saling menyatukan visi dan aksi dalam membangun sistem pengendalian banjir terpadu.
Salah satu proyek besar yang tengah digarap sebagai bagian dari langkah strategis ini adalah pembangunan turap pengaman dan pemasangan bronjong di sepanjang Kali Angke.
Infrastruktur ini dibangun untuk menggantikan turap lama yang telah rusak dan tidak mampu menahan tekanan debit air tinggi.
Sebagai bentuk antisipasi, Pemkot Tangsel membangun turap beton sepanjang 700 meter serta memasang bronjong sepanjang 200 meter di sepanjang Kali Angke.
Proyek ini menjadi bagian dari 30 titik prioritas penanganan banjir yang dikerjakan oleh Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Tangsel sepanjang 2025.
“Insya Allah beberapa waktu ke depan proyek ini rampung, sehingga bisa menangani banjir secara permanen,” tambah Pilar.
Meski bangunan turap tersebut belum selesai seluruhnya, warga di sekitar lokasi sudah mulai merasakan manfaatnya.
Mereka yang sebelumnya was-was setiap kali hujan deras mengguyur, kini mengaku lebih tenang. Tak sedikit yang menyebut tidur pun kini lebih nyenyak.
Seperti yang diungkapkan Sri, salah satu warga saat dijumpai di lokasi.
“Alhamdulillah banget sekarang. Kalau dulu tuh hujan sedikit aja kita was-was. Sekarang mah Alhamdulillah udah gak banjir lagi,” kata Sri.
Sri juga mengisahkan bagaimana ia dan keluarganya sempat mengalami banjir besar yang merendam rumah hingga setinggi dada. Namun sejak pembangunan turap dimulai, intensitas banjir jauh menurun bahkan saat hujan ekstrem.
“Alhamdulillah sudah tidak parah. Kalau itu itu bisa sampai dada,” kata Sri.
Selain membangun infrastruktur fisik, Pemkot Tangsel juga terus memperkuat komunikasi lintas pemerintahan, termasuk dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Pemerintah Provinsi Banten.
Kolaborasi ini diperlukan untuk menjalankan program normalisasi sungai lintas wilayah, yang menjadi bagian penting dari upaya menyeluruh pengendalian banjir.
Dengan pendekatan yang sistemik dan berbasis kolaborasi, Pemkot Tangsel menunjukkan bahwa persoalan banjir tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Dibutuhkan keterpaduan kebijakan, sinergi lintas sektor, dan perencanaan jangka panjang agar solusi yang dibangun benar-benar berkelanjutan.
Pemkot Tangsel menegaskan bahwa banjir bukan hanya masalah hilir, melainkan dimulai dari hulu.
Oleh karena itu, semua upaya diarahkan untuk membangun ketahanan kota secara menyeluruh.
Melalui kolaborasi, pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran, dan komunikasi yang intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, Tangsel berharap menjadi kota yang tidak hanya tangguh terhadap bencana, tetapi juga menjadi teladan dalam penanganan banjir berbasis kolaborasi regional. ***