TANGERANG–Di saat banyak UMKM kuliner rugi karena makanan tak laku terjual, mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) justru melihatnya sebagai peluang bisnis.
Inovasi digital bernama CIRCULAR AI resmi diperkenalkan sebagai solusi cerdas kelola surplus pangan berbasis Artificial Intelligence (AI).
Inovasi ini digagas oleh Elza Auliyana selaku ketua tim bersama Baedilah sebagai anggota.
Mereka menawarkan konsep baru: makanan berlebih yang masih layak konsumsi tidak harus dibuang, tapi bisa diubah jadi sumber pendapatan lewat teknologi.
Melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Tangerang, tim memperkenalkan bagaimana AI bisa membantu UMKM membaca permintaan pasar, mengatur produksi, dan menjual makanan surplus secara cepat dan aman.
Tim CIRCULAR AI berangkat dari data serius. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas tahun 2021, Indonesia menghasilkan food loss and waste hingga 23-48 juta ton per tahun pada periode 2000-2019.
Di level UMKM, masalah ini nyata, berupa produksi tidak sesuai permintaan, makanan menumpuk, akhirnya terbuang dan jadi kerugian.
“Surplus makanan bukan hanya soal rugi ekonomi, tapi pemborosan sumber daya. Lewat CIRCULAR AI, kami ingin bantu UMKM ambil keputusan berbasis data, bukan perasaan,” jelas Elza, dikutip Minggu (8/11/2026).
Dalam sosialisasi tersebut, peserta diajak memahami pemanfaatan data penjualan untuk memprediksi kebutuhan produksi hingga strategi menjual makanan surplus lewat penawaran digital.
Inovasi CIRCULAR AI dibangun di atas empat konsep utama yang menjadi pembeda dari platform kuliner biasa.
1. Prevent
Membantu UMKM mengantisipasi kelebihan produksi lewat prediksi permintaan berbasis data.
2. Protect
Menjamin keamanan pangan. Setiap makanan yang akan dijual kembali wajib lolos cek kelayakan, keputusan akhir tetap di pelaku UMKM.
3. Monetize
Mengubah stok berlebih jadi cuan lewat program flash sale digital berbasis WhatsApp yang mudah diakses.
4. Measure
Mencatat transaksi dan mengukur dampak ekonomi serta lingkungan yang dihasilkan.
Dengan empat pilar ini, AI tidak hanya untuk efisiensi bisnis, tapi juga mendorong praktik ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Tak hanya konsep, tim juga memperkenalkan purwarupa platform CIRCULAR AI. Tampilannya sudah dilengkapi dashboard pengelolaan data UMKM, rekomendasi permintaan harian, katalog penawaran makanan surplus, hingga pencatatan transaksi otomatis.
Lewat sistem ini, UMKM bisa tahu kapan harus produksi lebih banyak, kapan harus rem, dan kapan waktu terbaik untuk menggelar flash sale.
Saat ini purwarupa masih menggunakan data demonstrasi. Tahap selanjutnya, tim akan melakukan pengujian akurasi model AI, integrasi penuh WhatsApp, dan uji transaksi nyata di lapangan.
Sasaran CIRCULAR AI jelas, yakni para UMKM dan konsumen sama-sama untung.
Bagi UMKM kuliner, platform ini jadi jalan keluar untuk menyelamatkan makanan layak jual yang berpotensi tidak laku menjadi pemasukan tambahan.
Bagi konsumen, khususnya mahasiswa dan anak kos, inovasi ini membuka akses makanan berkualitas dengan harga lebih miring.
Dari sisi lingkungan, CIRCULAR AI berkontribusi langsung mengurangi food waste dan mendorong konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab.
Sebagai tindak lanjut, Tim CIRCULAR AI akan melakukan validasi awal dengan melibatkan 3 hingga 5 UMKM kuliner dan 50 hingga 100 calon konsumen untuk menguji kebutuhan pengguna dan kelayakan model usaha.
Dengan semangat “Selamatkan Makanan, Tumbuhkan Nilai, Buktikan Dampaknya”, mahasiswa UNPAM membuktikan bahwa teknologi AI bukan sekadar tren digital, tapi bisa menjadi solusi nyata untuk persoalan ekonomi dan lingkungan.***