Ini Persiapan Masyarakat Cilegon Menyambut Momen Maulid Nabi

0

FAKTA BANTEN – Menjelang datangnya bulan Mulud atau Rabi’ul Awal, di akhir bulan Safar (Penanggalan Hijriyah) ini, ummat muslim khususnya di Kota Cilegon dan Banten bagian Utara, sepertinya sudah menyiapkan berbagai macam agenda dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang jatuh pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, dengan perayaan Dzikir dan Panjang Mulud.

Sebagai tradisi keagamaan, Panjang Mulud
hingga sekarang masih rutin diperingati setiap tahunnya. Hal ini tak lepas dari masyarakat Cilegon yang dikenal religius dari nilai sejarah yang panjang sejak masa keemasan Kesultanan Banten dulu.

Di dalamnya telah terjadi pergulatan yang intens dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang agama, Sospolbudek (sosial politik budaya ekonomi dan sebagainya.

Dalam sebulan terakhir ini, sudah terlihat dan terdengar di pengeras suara masjid kelompok-kelompok dzikir di berbagai kampung kota santri tersebut, berlatih untuk kekompakan seni paduan suara lantunan dzikir. Dalam satu kelompok biasanya terdiri dari 50 orang hingga 100 orang untuk membaca wiridan dzikir kepada Allah dan Nabi Muhammad.

Selain itu, para pengurus DKM di kampung-kampung sebelum pelaksanaan tradisi panjang mulud, sudah membentuk suatu kepanitiaan terlebih dahulu. Dalam kepanitiaan ini terdapat ketua, sekretaris, bendahara, ketua kelompok dan sebagainya yang bertugas mengorgansir pembuatan dan pelaksanaan pawai panjang mulud.

Biasanya, ketika suatu kampung sedang memperingati panjang mulud, panitia akan mengundang beberapa kelompok dzikir dari kampung lain.

Dalam pelaksanaannya, masing-masing bergantian membaca dzikir. Kelompok dzikir ini biasanya terdiri 2-3 kelompok, selanjutnya pihak panitia menilai kelompok mana yang memiliki bacaan, kefasihan, ketartilan, qira’at sab’ah serta kekompakan yang bagus, itulah yang menjadi pemenang dzikir mulud. Akan tetapi, semua kelompok dzikir berhak menerima panjang mulud yang disediakan oleh panitia untuk dibawa ke kampungnya masing-masing.

Meski sudah berstatus kota, namun masyarakat Cilegon di kampung-kampung masih memiliki ghirah yang tinggi dalam menyambut dan mempersiapkan tradisi panjang mulud yanh berlangsung selama satu bulan penuh selama bulan Rabi’ul Awal.

Tradisi ini bagi masyarakat Cilegon merupakan ajaran yang mereka yakini bahwa penghormatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW, bisa juga sebagai Kado ungkapan terima kasih atas risalah dan ajaran Islam hingga sampai kepada mereka. Suatu tradisi yang baik dan tidak melanggar ajaran agama.

Para kelompok pedzikir ini membacakan kitab Barjanzi dengan seni dan kebersamaan yang indah. Biasanya lagu-lagu klasik kelompok dzikir ini tidak berubah sepanjang tahunnya, meski mulai ada yang coba berinovasi dan improvisasi dengan melakukan pembaruan gubahan lagu kontemporer.

Dalam kitab ini memiliki 16 lagu-lagu. Ketika posisi duduk, lagu yang dibawakan pezkir adalah, assala, alfasa, tanakal, walidal, singkir, dzikrun, dan badat. Namun dalam posisi berdiri pezikir membacakan lagu hanya satu, yaitu : ya Nabi salam.

Kemudian dilanjutkan lagi dengan posisi duduk yang kedua, dengan membacakan lagu-lagu terdiri dari 8 lagu, yaitu : ya Nuur, Futur Kulwas, Ta’lam, Masmis, Wulidang, Talaubina Jalar nama, dan Habibun.

Ied_Bmpp_Kuswandi

Para pezikir ini tidak berhenti membaca selama ber jam-jam dengan istirahat pada waktu sholat dzuhur, yang dilanjutkan hingga menjelang ashar. Para pedzikir dalam upacara tradisi panjang mulud selalu mengenakan pakaian seragam baju taqwa.

Istilah Panjang sendiri tidak ada kaitan dengan panjang pendek sebuah meteran. Namun istilah Panjang disini kaitannya dengan bahasa Jawa Banten yaitu pajang, yang maknanya bisa berarti memajangkan, memperlihatkan dan kalau pinjam bahasanya Jemidin mah; show up. Bisa juga bermakna menyumbangkan suatu bentuk uang, barang, makanan hewan ternak sebagai bentuk ungkapan cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Pajang ini kemudian diberikan (idealnya) ke fakir miskin yang memang membutuhkan. Walau dalam prakteknya mungkin lebih banyak dari dana yang terkumpul disumbangkan ke masjid di kampung tersebut. Dengan demikian panjang mulud, merupakan memajangkan dan menyumbangkan hadiah berupa makanan yang khas, berupa nasi beserta lauk-pauknya, bermacam-macam bentuk seperti hiasan endog disunduk, perahu, kapal terbang, ka’bah, kubah masjid, pohon uang, bahkan kebo urip, bekakak ayam dan lain sebagainya.

Awal mulanya panjang mulud berkisar pada nasi dan ditempatkan pada wakul (wakul), namun perkembangan zaman, bakul berisi nasi dan lauk pauk dihias dengan berbagai macam warna, dan yang lebih menarik lagi, menghias telor dengan berbentuk bunga mawar dengan tangkai bambu. Dan untuk lebih praktisnya lagi saat ini panjang mulud tidak lagi dengan meyumbangkan makanan yang dimasak. Sehingga satu keluarga atau kelompok tidak lagi menanak nasi, melainkan menghias makanan yang tidak dimasak, dan menghias panjang dengan bermacam-macam bentuknya serta bentuk materi lainnya.

Bentuk-bentuk panjang mulud seperti kita lihat pada tahun-tahun sebelumnya, adalah : beras, endog-hias, ayam, kambing, mebel, alat-alat masak, alat transportasi, jam dinding, perahu, pesawat, ka’bah, pakaian, sarung, masjid, kubah masjid, mobil, mie instan, kompor, kopi sendal jepit, uang, kain sarung, kain panjang/benting, sajadah, karpet, risbang, dan lain-lain.

Bagi masyarakat Cilegon umumnya, tradisi panjang mulud merupakan suatu tradisi keagamaan yang harus dirayakan, karena kecintaannya terhadap Nabi Muhammad SAW. Kecintaan kepada Nabi dan agama inilah yang diyakini bagi mereka bisa menerima ajaran dan menjalankan syariat ajaran Islam.

Suatu sistem simbol agama, dan karenanya juga sisitem budaya, as a cultural system yang menjadi acuan manusia dalam menginterpretasikannya di lingkungannya. Sebagai acuan, dengan agama tentu dapat memberikan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia, baik masalah-masalah yang dihadapi sekarang (dunia nyata), masalah-masalah nanti (akhirat), maupun masalah-masalah yang tidak tampak (gaib).

Tak heran jika tradisi panjang mulud merupakan salah satu tradisi keagamaan masyarakat Cilegon yang peranannanya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa peran tradisi panjang mulud memiliki sumbangan yang bersifat kebersamaan, solidaritas, dan tentunya sumbangan pariwisata.

Namun yang tak kalah adalah sumbangan keberkahan baik individiu dan lingkungan serta potensi syafaat dari Baginda Nabi SAW yang terbuka lebar dari tradisi panjang mulud ini yang tak terhitung oleh Einstein maupun terdata oleh komputer pentium tercanggih sekalipun.

Dan karena tulisan ini terinspirasi dari mantan pedagang pasar yang kembali berhasrat berdagang lagi pada momen muludan kali ini, karena baginya ramainya pembeli adalah potensi keuntungan besar.

Hmmm… Mbok yo tolong sih, jangan mengkapitalisasi muludan gitu, dagang ya dagang aja jangan jadikan momen sakral ini dengan niat cari untung. Mending nyumbang, tidak dengan materi ya tenaga atau pemikiran atau setidaknya dengan bershalawat. Allahumma shali ‘alaa sayyidina Muhammad. (*/Ilung)

[socialpoll id=”2521136″]

Loading...
Loading...

Tinggalkan pesanan

Email anda tidak akan dipublikasi