Tuduhan Prabowo Dukung Khilafah, Amir Syamsudin: Isu Hoax Dimainkan Kubu 01

Lmp-dindik-helldy

CILEGON – Mencuatnya tuduhan yang menilai Prabowo Subianto merupakan pembela kelompok khilafah dan akan mengubah Pancasila jika terpilih sebagai presiden, akhir-akhir ini menjadi perdebatan sengit di antara para kubu pendukung Capres-cawapres.

Pasalnya, isu dan tuduhan terhadap Prabowo tersebut dimulai dari para pendukung Capres 01, yang berusaha mendudukkan bahwa Pemilu kali ini merupakan perang ideologi. Kubu Capres 01 juga selalu mempertentangkan antara Pancasila dan Islam sebagai ideologi bangsa.

Menyikapi hal ini, Amir Syamsudin politisi Partai Demokrat yang merupakan bagian dari Koalisi Prabowo-Sandi, menegaskan bahwa tuduhan tersebut bernilai hoax.

“Saya kira itu yang layak dikatakan hoax, tidak mungkin, kita sudah punya komitmen kebangsaan yang tidak bisa ditawar-tawar, harga mati kita NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara kita,” tegas Amir usai menghadiri acara Caleg Demokrat Menyapa Masyarakat di Link Pintu Air, Kubangsari, Kecamatan Ciwandan, Sabtu (6/4/2019).

Amir yang juga Caleg DPR RI dari Dapil Banten 2 menilai, isu yang membenturkan antara Islam dengan Pancasila, hal itu sengaja dilontarkan oleh kubu yang merasa lemah dalam menghadapi Pemilu 2019 ini.

“Jadi kalau ingin menggunakan narasi-narasi seperti itu di saat-saat menjelang beberapa hari lagi Pemilu, saya kira itu langkah dari orang yang khawatir akan kalah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Caleg Demokrat Menyapa dan Hibur Masyarakat Ciwandan-Citangkil

ks-ip-helldy
Amir Syamsudin (2-kanan) bersama Ketua DPC Partai Demokrat Cilegon Rahmatullah, Caleg MIA (tengah) dan juga Haji Muhibudin, saat foto bersama dengan para pendukungnya / Dok

Amir sendiri mengaku sangat tidak setuju dengan cara-cara politik kubu yang selalu membenturkan antara sesama umat Islam.

“Saya kira yang menggunakan terminologi Islam garis keras untuk menstigma lawan itu mungkin kubu 01. Padahal 02 itu Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Tapi selalu dengan narasi-narasi dan kosa kata yang dipelintir seperti itu tujuannya jelas, Islam garis keras ingin dihadapkan dengan Islam moderat. Kira-kira itu maksudnya mereka. Saya kira rakyat Indonesia sudah cerdas,” jelas Amir.

Mantan Menteri Hukum dan HAM di era Presiden SBY ini mengatakan, bahwa Pemerintahan SBY selama 10 tahun mampu menjaga dengan baik kerukunan umat beragama, termasuk di kalangan umat Islam. Karenanya, Amir berharap pemerintahan ke depan jika Prabowo-Sandi berhasil memimpin agar meniru kepemimpinan SBY yang mampu menjaga keharmonisan bangsa.

“Apa yang terjadi selama 10 tahun Pemerintahan Demokrat, nampak fine-fine saja, tidak pernah itu umat Islam dihadapkan dengan umat Islam, tidak pernah ada dalam sejarah Demokrat. Selama Pak SBY memerintah, negara ini tenang dan damai,” imbuh Amir.

Dia juga berharap bahwa rakyat Indonesia bisa menjaga persatuan, dan cerdas dalam menentukan pilihan, yakni dengan tidak memilih calon yang menyuburkan bibit-bibit perpecahan rakyat.

“Berbahaya sekali memainkan narasi yang berujung pada perpecahan rakyat. Kita buang itu jauh-jauh, kita tetap bersatu memasuki Pemilu 17 April 2019. Kita yakin demokrasi kita diciptakan bukan untuk memecah belah rakyat, tetapi menyelenggarakan hak rakyat untuk memilih pemimpinnya, sejak 2004 sudah baik dan harus begitu seterusnya,” pungkas Amir. (*/Ilung)

bb-pcm-helldy
Pagem