Kita dan Kejayaan Indonesia Pasca Duka Covid-19

Lmp-dindik-helldy

( Habis Gelap, Terbitlah Terang )

Oleh: Alwiyan Qosid Syam’un

(Pengasuh Kesatrian SATRIA Al-Khairiyah)

Di tengah duka wabah Virus Corona, saya tulis essay ini dengan judul diatas, sbg cara saya (dan semoga kita semua Bangsa Indonesia) untuk fokus berfikir positif membangun kepercayaan diri saya bahwa pasca wabah Virus Corona Bangsa Indonesia akan mencapai kejayaannya dan unggul dari bangsa-bangsa lainnya, saya percaya diri bahwa wabah Virus Corona akan segera berakhir dengan ikhtiar dan doa kita bersama serta karunia Allah.

Seperti halnya saya sbg seorang muslim berfikir positif kepada Allah berupaya dengan penuh kesabaran membangun jiwa dengan tahlil, tahmid, tasbih, takbir dan sholawat adalah sebagai cara saya membangun kepercayaan diri saya bahwa bersabar dengan kalimat² tersebut yang saya yakini secara hakikat, haqul yakin saya akan di masukan kedalam surga oleh Allah Swt.

Masa depan adalah harapan, masa lalu akan menjadi sejarah yang memberi hikmah dan pelajaran bagi kaum yang berfikir. Musibah COVID-19 akan menjadi sejarah duka dalam perjalanan Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lainnya, setiap fikiran serta tindakan kita di dalamnya akan menjadi cermin generasi kita selanjutnya, semoga kita bijaksana menjadikan musibah tersebut menjadi renungan kita bersama hari ini untuk menatap dan melangkah menuju kejayaan Bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

Dalam sejarah bangsa bangsa di dunia, kejayaan suatu bangsa sepertinya menjadi piala bergilir yang diberikan kepada bangsa yang telah memenangkan berbagai tantangan serta ancaman internal maupun eksternal, pandai memanfaatkan peluang yang ada dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya.

Bahwa kejayaan merupakan harapan semua manusia, baik sebagai individu, kelompok masyarakat maupun sebagai bangsa yang tentu kerap kali kejayaan itu menuntut berbagai syarat dan kerap kali berbagai syarat itu menjadi bagian dari kendala yang sedang di alami oleh suatu bangsa sehingga perlu dilakukan perbaikan disana sini.

Suatu pandangan Eugenetika yg menarik dari Adolf Hiler perlu saya sampaikan sekedar bahan perbandingan dlm renungan kefilsafatan, bahwa: ” Setiap makhluk hidup harus bertarung untuk mempertahankan eksistensinya dan peperangan antar bangsa hanya akan dimenangkan oleh bangsa yang sehat”

Setidaknya jika suatu bangsa mau memulai secara serius membenahi persoalan yang menjadi prinsip kebangsaannya yg menjadi syarat, maka saya fikir kejayaan itu akan terwujud secara alamiah dan ilmiah, walau mungkin agak lambat tapi sudah pada jalur yang tepat. Menurut hemat saya, prinsip tersebut diantaranya adalah :

1. KEMBALI KEPADA TUHAN

Sebagai bangsa yang berketuhanan, khususnya ummat Islam, selayaknya kita kembali kepada Allah, memohon ampunan dan bertaubat atas segala khilaf dan dosa, berdoa memohon petunjuk dan rahmat-Nya, memperbaiki aqidah serta berupaya sungguh-sungguh semampunya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2. SUPREMASI HUKUM UNTUK KEADILAN

Fiat justitia ruat caelum
Hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh. ( Lucius Calpurnius Piso Caesoninus, 43 SM).

Kewibawaan suatu bangsa dan negara atau jamaah sangat ditentukan oleh komitmen moral diantara mereka terhadap hukum untuk di tegakan seiring dengan kebaikan, kebenaran dan keadilan diatas semua kepentingan.

Hukum adalah seperangkat sistem yang didalamnya terdapat peraturan dan tata tertib yang mengatur urusan seperti urusan hak, urusan kewajiban, perintah dan larangan serta urusan sanksi, yang bersifat memaksa dan mengikat dengan tujuan terciptanya keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan manusia secara individu maupun dalam bermasyarakat.

Menegakan dan mentaati hukum untuk mencapai kemaslahatan umum berupa keadilan, hukumnya wajib. Hukum memiliki tugas suci berupa misi kemanusiaan utk mencapai keadilan dlm kehidupan masyarakat dimana keadilan merupakan sesuatu yang amat prinsip dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana Allah amanatkan dalam surat An-Nahl Ayat 90 :

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤىِٕ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Perlu diingat bhw, jika hukum sudah diabaikan dan menjadi permainan lalu diinjak-injak oleh suatu kaum maka tunggu saja kehancuran kaum tersebut.

Oleh karenanya, walau ditengah carut marutnya penegakan hukum di negeri ini, marilah kita mulai sadari bahwa pentingnya menjunjung tinggi hukum dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai wujud ketaqwaan dan rasa syukur kita kepada Allah serta sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama hidup berjama’ah berbangsa dan bernegara.

3. KEPEMIMPINAN

Kekuatan sebuah bangsa atau negara sangat ditentukan oleh kualitas solidnya kepemimpinan yang diupayakan secara sadar oleh seluruh elemen bangsa dan negara.

Dari sekian banyak definisi tentang kepemimpinan dan dengan berbagai pengalaman saya, saya menarik kesimpulan bahwa :

” Kepemimpinan adalah aktifitas membuat kebijakan dan aktifitas kerjasama antara yang memimpin dengan yg dipimpin dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama dan menikmati hasilnya bersama sama sesuai asas proporsional dan keadilan “.

Allah SWT berfirman:

ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” [al-Maidah :2]

Sebagaimana firman Allah SWT yang lainnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara” (QS Ali Imran:103)

ks-ip-helldy

Oleh karenanya, kita sebagai muslim dilarang bercerai berai dan wajib menjaga persatuan serta wajib taat kepada pemimpin sepanjang dalam bingkai tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ.

Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan” ( HR. Bukhari, 6716 )

Di hadits yang lain, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat” ( HR. Muslim, 3423 )

Walau demikian, namun tidak ada perintah untuk memberontak kepada pemimpinnya, pemberontakan akan mendatangkan kemudhorotan yang lebih besar. Andaipun didalam kepemimpinan tersebut didapati sesuatu yang tidak disukai dalam diri seorang pemimpin dlm memimpin maka sampaikanlah dengan adab yang baik atau diam, sebagaimna Rosulullah SAW ajarkan :

Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya“, ( HR. Ahmad, 14.792 )

Namun perlu di sadari bahwa, ketika seorang pemimpin yang kita ingatkan / nasihati dgn cara yg baik kemudian mengikuti apa yg kita sarankan atau nasihatkan, maka jangan jumawa menganggap diri kitalah yang menggerakan ia untuk ikut saran kita, sadarilah bahwa hal itu hanyalah kehendak Allah menggerakan hatinya, namun ketika menolak, sesungguhnya gugurlah kewajiban kita setelah menyampaikannya, dan tak perlu memusuhinya apalagi tidak bersabar dalam mentaatinya.

Rosulullah SAW berpesan tentang bahayanya jika seorang muslim keluar dari ketaatan kpd seorang pemimpin :

Siapa yang melihat dari amirnya sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar, sebab tidaklah seseorang meninggalkan jama’ah sejauh sejengkal, lantas ia meninggal dunia, melainkan ia mati jahiliyah.” (HR. Bukhari: 6610) –

Namun demikian, Rosulullah SAW berpesan melalui sabdanya bahwa pemimpin wajib melindungi dan menyayangi rakyatnya dan melarang menipu dan mendzalimi rakyatnya :

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Rasulullah Saw bersabda: ” Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya.” (HR. Muslim: 203)

Pemimpin yang Adil mendapat naungan rahmat Allah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil……. ” ( HR. Bukhari, 620 ) 

Dalam hidup berjama’ah, selayaknya sholat berjama’ah, kita dilarang keras bergerak sendiri-sendiri tanpa ketaatan dalam gerakan, begitupun dalam berbangsa dan bernegara.

4. PRODUKTIVITAS

Kemakmuran suatu bangsa atau negara salah satunya amat ditentukan oleh kemampuan atau daya produksinya terhadap barang dan atau jasa yg sanggup memenuhi hajat hidup orang banyak, sebesar apa produksi yang dihasilkan oleh seluruh elemen bangsa dalam rentang waktu tertentu sbg bentuk partisipasi dan pemerataan ekonomi, mampu menghasilkan karya nyata yang bermanfaat, sehingga terwujud daya saing dan kemandirian dalam pemenuhan berbagai kebutuhan dan keinginannya.

Elemen bangsa dan negara yang terdiri dari ragam latar belakang agama, suku, pendidikan, budaya dan asal usul tentu akan memberi motif tersendiri dalam dinamika perbedaan yang bisa menjadi potensi membangun bangsa dan negara jika kita fokus pada persamaan sebagai manusia Indonesia yang menginginkan kehidupan di tanah yang sama yakni terwujudnya masyarakat yg adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Semua elemen bangsa bergerak dan terlibat dalam proses produksi, baik bersama² maupun sendiri demi sebuah karya nyata yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di semua lini kehidupan, seperti bidang ekonomi, sosial, politik, pertahanan, kebudayaan, dsb.

Sebagai muslim, perlu memupuk diri dengan pemahaman bhw muslim terbaik adalah muslim yang paling taqwa dihadapan Allah, dan muslim yang paling taqwa adalah muslim yang menjauhi kerusakan dan paling produktif dalam amal kebaikan kepada Allah, kepada diri sendiri serta kepada manusia dan alam, muslim yang paling produktif dalam kebaikan adalah muslim yg dekat dengan rahmat Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-A’raf Ayat 56 :

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًا ۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.

5. KADERISASI

Yang tak kalah penting harus dilakukan oleh suatu bangsa dan negara adalah kaderisasi, dimana kaderisasi merupakan media dalam proses orientasi dan transformasi yang didalamnya terdapat pengenalan, pemahaman, penghayatan serta pengamalan nilai nilai dan cita cita yang ingin dicapai oleh suatu kelompok masyarakat ideologi.

Selain itu, kaderisasi memiliki tujuan mempersiapkan regenerasi yang pada gilirannya generasi tersebut akan siap meneruskan estafeta kepemimpinan yang akan melanjutkan dan melanggengkan nilai nilai dan cita cita yg telah ditentukan untuk jangka panjang.

Mengingat tantangan dan ancaman bangsa dan negara Indonesia hari ini, dari dalam dan luar negeri, amatlah besar dan berdaya dobrak tinggi, maka jangan sekali kali kita meninggalkan generasi setelah kita sebagai generasi yang lemah keimanannya dan aqidahnya, lemah ilmunya, buruk ahlaknya, lemah fisiknya dan lemah ekonominya.

Namun, sesuatu yang mustahil rasanya jika budaya buruk akan mampu melahirkan stock generasi selanjutnya para calon pemimpin yang memiliki integritas moral yang baik, oleh karenanya jangan berharap dapat muncul para calon pemimpin yang memiliki integritas moral dan agama yang baik jika budaya intelektual dan budaya spiritual blm dirasakan hadir ditengah kehidupan kita, dan itu tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan. Jangan pernah kita tinggalkan generasi setelah kita orang-orang yang lemah.

Mungkin ini sepintas kerisauan dan sebatas pandangan Rakyat Biasa, dengan kedangkalan pemikiran dan penginderaan saya, sedangkal, sependek dan sesempit ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Namun saya punya keyakinan, jika ke lima prinsip tersebut kita sungguh-sungguh melaksanakan bersama-sama, maka saya percaya diri bahwa hari esok adalah milik Bangsa Indonesia.

والله اعلم بالصواب

(***)

bb-pcm-helldy
Pagem