Kader GMNI Cilegon Sempat Ditangkap dan Dipukuli Oknum Polisi, Sebelum Aksi Omnibus Law

Lmp-dindik-helldy

CILEGON – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) dan DPC GMNI mengutuk tindakan represif dan salah tangkap yang dilakukan oknum kepolisian. Hal itu terjadi sebelum demonstrasi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja, yang digelar di depan gedung DPRD Cilegon.

Kader GMNI Cilegon Ihwan Muslim menerangkan, dirinya sekitar pukul 13.30 WIB sedang menuju titik kumpul aksi mahasiswa, dan ia melihat ada orang sedang ditangkap polisi di sekitar Taman Layak Anak. Kemudian ia mendekat, dan mencoba menanyakan perihal orang-orang yang sedang ditangkapi polisi tersebut

“Setelah saya tanya kenapa pada ditangkapin, tanpa aba-aba di situ saya digulung dan ada kontak fisik. Dimana saya ditabrak motor,” jelas Ihwan kepada wartawan, Kamis (8/10/2020) malam.

Tak hanya itu, ia mengaku beberapa kali mendapat pukulan serta tendangan. Kemudian dia juga dipiting sampai menuju Porles Cilegon, sekitar pukul 13.45 WIB. Saat tiba di pintu Maporles Cilegon, Ihwan juga mengaku ada oknum polisi yang menendang kakinya beberapa kali dari arah belakang, dan kemudian diinterogasi.

“Sampai akhirnya, setelah kurang lebih satu jam di dalam Mapolres Cilegon. Saya dijemput oleh Ketua Cabang GMNI Cilegon,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Kota Cilegon Syaihul Ihsan, membenarkan atas kejadian yang menimpa kadernya tersebut. Dia menjelaskan hal itu terjadi sebelum aksi gabungan antara mahasiswa Cilegon dengan unsur buruh di depan gedung DPRD Cilegon. Ia merasa kecewa, sebab anggotanya saat itu mengenakan baju atau atribut organisasi.

“Dia bukan penyusup yang diduga hendak menuai keributan. Atas nama GMNI saya meminta Kapolres Cilegon bersedia meminta maaf atas salah tangkap tersebut, terlebih kader terbaik GMNI dipukul dan ditendang hingga memar. Emangnya dia maling!” tegas Syaihul Ihsan.

“Aksi di Cilegon tadi sangat damai tidak ada secuil kerusuhan dan kerusakan apapun, karena substansi dari aksi ini jelas tolak Omnibus Law. Tapi diciderai oleh insiden polisi salah tangkap yang menimpa kader GMNI Cilegon,” tandas Syaihul.

Hal senada dikatakan Ketua Persatuan Alumni GMNI Kota Cilegon, Supriyadi, yang mengutuk keras tindakan salah tangkap, dan tindakan represif yang dilakukan oleh oknum polisi. Baginya, hal tersebut tidak mencirikan polisi sebagai pengayom yang baik untuk masyarakat.

“Di lain hal kawan-kawan mahasiswa tidak ada rusuh dalam aksi damai tersebut. Jika tidak ada itikad baik kita akan bawa kasus salah tangkap ini ke Propam Polda, dan Polri,” pungkasnya. (*/A.Laksono)

bb-pcm-helldy
Pagem