Tempat Hiburan Malam Bukan Bagian Modernisasi Kota Cilegon

0

CILEGON – Memasuki awal abad 21 Tahun, Kota Cilegon yang familiar dengan sebutan Kota santri mengalami banyak perubahan. Sebagai pusat industri, banyak pendatang yang ada untuk mengisi jabatan-jabatan, baik di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau perusahaan swasta Multinasional Corporation.

Di tengah hari santri nasional, Pengurus Serikat Hadroh Banten, Umar Soleh mengatakan, dijuluki kota santri karena kemungkinan banyak pesantren di Kota Cilegon. Stigma pantas atau tidaknya Kota Cilegon hari ini dijuluki Kota santri, Ia mengembalikan pada pribadi masing-masing.

Ia juga menanggapi, akhir-akhir ini terjadi sweeping tempat hiburan malam (THM) di beberapa titik di Kota Cilegon, dan Kabupaten Serang oleh organisasi masyarakat (ormas) Islam.

“Itu sesuatu yang bagus menyikapi nahi mungkar. Karena orang kenalnya kita Kota Santri,” jelasnya, Kamis (22/10/2020).

Sementara itu, Ketua Pondok Pesantren Al-Khairiyah Citangkil Alwiyan Qosid Syam’un mengatakan, modernisasi merupakan peristiwa yang tak terhindarkan, baginya hal itu merupakan sesuatu yang sunatullah.

“Tapi hiburan itu bukan modernisasi, karena sejak dulu ada. Minimal diminimalisir,” kata Ustadz Alwiyan.

Dalam meminimalisir berjamurnya tempat hiburan malam, hal pertama harus dari keluarga, lalu peran Pemerintah. Yang patut dipertanyakan, mengapa tempat hiburan malam (THM), cukup lama beroperasi.

Kemudian, ia mengingatkan gerakan ormas Islam yang men-sweeping kegiatan THM tersebut, harus mengedepankan gerakan amar maruf nahi munkar.

“Kita harus uji ke pemerintah gimana good will atau political willnya,” jelasnya.

Semua hal, harus dikembalikan pada kaidah fiqih, sebuah kebijakan harus mengedepankan bagaimana kemaslahatan masyarakat. Serta memprioritaskan agama, lalu kebahagiaan jiwa masyarakatnya.

“Bagaimana tidak lagi yang mengeluh, mungkin ada beberapalah. Tapi jangan semua,” kata Ustadz Alwiyan saat siaran langsung di Facebook Fakta Banten.

Ia pesimis, bila tiap kebijakan Pemerintah kedepan, tak mengedepankan kemaslahatan masyarakat. Dan tak menjadi soal, apakah pemimpin itu berlatar belakang santri, atau bukan, yang terpenting mengedepankan prinsip kemaslahatan.

“Siapapun yang jadi (terpilih sebagai Walikota dan Wakil Walikota Cilegon), itu ketentuan Allah SWT. Yang terpenting dengan cara yang baik,” pungkasnya. (*/A.Laksono).

Tinggalkan pesanan

Email anda tidak akan dipublikasi