Alumni Al-Hasyimiyah Cilegon: Santri Adalah Aset Bangsa

0

CILEGON – Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional (HSN), menjadi landasan bagi diperingatinya HSN pada setiap 22 Oktober sebagai hari besar nasional di Indonesia. Ikatan Santri Alumni Al-Hasyimiyah menilai, Penetapan HSN dimaksudkan untuk mengingat, dan meneladani semangat jihad para santri dalam merebut, serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama.

“Hal itu dimulai dengan fatwa jihad Rais Akbar PBNU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pada 17 September 1945, dan dilanjutkan dengan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945. Kemudian fatwa dan resolusi itu dibicarakan kembali dan menjadi keputusan dalam Kongres Umat Islam di Yogyakarta pada 7 hingga 8 November 1945,” kata Ketua Umum Ikatan Santri Alumni Al-Hasyimiyah Muhammad Rizqi Baidullah, Kamis (22/10/2020).

Dinana keputusan dalam kongres tersebut, menimbulkan peristiwa 10 November di Surabaya. Baginya, sejarah membuktikan bahwa santri, dalam hal ini dunia pondok pesantren (ponpes), memiliki andil yang begitu besar pada peristiwa 10 November dan perang-perang sebelumnya.

“Sebagai lembaga pendidikan berbasis Keagamaan di Indonesia, Ponpes saat ini sedang mengalami transformasi yang luar biasa, baik dalam sistem pendidikan, metode pengajaran, dan output yang dihasilkan,” jelas Rizki Baidullah.

Dimana, Pesantren juga kini tidak hanya salafiyah yang hanya fokus mengajarkan ilmu agama dengan sistem pendidikan non-formal saja. Saat ini, banyak Ponpes yang telah menggabungkan sistem salafiyah, dengan sistem pendidikan formal yang lebih modern.

“Gak sedikit ya, Ponpes yang didalamnya terdapat beragam tingkatan pendidikan formal, seperti SD, SMP, dan SMA atau MI, MTS, dan MA. Bahkan sampai ada perguruan tinggi,” jelas Alumni Ponpes yang berlokasi Di Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan ini.

Transformasi besar tersebut, memberikan pengaruh cukup signifikan bagi kondisi santri di seluruh Indonesia saat ini. Jika dahulu santri hanya dianggap hanya memiliki kemampuan mengaji saja, kini santri mulai memiliki banyak potensi-potensi strategis yang sebenarnya cukup dibutuhkan bagi keberlangsungan bangsa.

“Gak sedikit juga, tokoh-tokoh besar di bangsa ini yang sebetulnya berlatar belakang santri. Mulai dari pejabat pemerintahan, pengusaha-pengusaha besar, seniman, hingga artis. Kini banyak diisi oleh orang-orang berlatar belakang santri,” tuturnya kepada Fakta Banten.

Ia meminta, masyarakat saat ini juga sudah seharusnya lebih memahami, adanya dua kategori santri secara sistem pendidikan di pesantren. Ada santri salafi yang menempuh pendidikan di Pesantren salafiyah, dan ada santri modern yang menempuh pendidikan di pesantren modern.

“Meskipun sama-sama dididik untuk bisa memahami ilmu agama, nyatanya dua kategori santri ini dididik dan dipersiapkan untuk menjalankan output yang berbeda. Santri salafi dipersiapkan buat menjaga tradisi dengan keilmuan agama islam di daerah,” jelasnya.

Kalau santri modern, dipersiapkan untuk dapat memiliki pemikiran-pemikiran yang modern dengan berbasis agama Islam. Kedua kategori santri ini, kedepannya harus dapat saling bersatu padu, dan saling bahu-membahu mempersiapkan serta melibatkan diri dalam pembangunan bangsa Indonesia.

“Santri adalah aset bangsa Indonesia, yang harus diperhatikan, dan dipersiapkan oleh Negara untuk menjadi garda terdepan. Untuk menghadapi kemajuan global,” pungkasnya. (*/A.Laksono)

Tinggalkan pesanan

Email anda tidak akan dipublikasi