Nenek di Tangerang Sebatang Kara Tempati Rumah tak Layak Huni

Lmp-dindik-helldy

TANGERANG – Sudah selayaknya usia senja merupakan waktu bagi seseorang untuk menikmati masa tuanya bersama keluarga. Namun, tidak demikian dengan Sukarmi (73).

Perempuan yang berusia lanjut ini diketahui tinggal seorang diri tanpa ada keluarga yang menemani.

Apalagi rumah tempat tinggalnya sangat memprihatikan, jauh dari para tetangga di tengah kebun.

Bahkan, untuk makan sehari-hari nenek Sukarmi hanya bergantung pada belas kasihan para tetangga sekitar.

Jauh dari kehangatan keluarga serta anak cucu, nenek Sukarmi hanya hidup sebatang kara dengan cara sederhana.

Tidak jarang nenek berusia 73 tahun ini tampak melamun dalam kesepian dan kesendirian.

Meski tinggal seorang diri, wanita lanjut usia di Kampung Cigereung RT 10 / RW 03 Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, ini tetap tegar menghadapi berbagai cobaan yang silih berganti.

Dari mulai membersihkan rumah hingga pekerjaan lainnya pun dikerjakan Sukarmi seorang diri.

Padahal, wanita seusianya sudah selayaknya menikmati kehidupan dengan tenang dan damai.

Terlihat satu dua warga sekitar yang tengah memberi sepiring makanan pada wanita paruh baya ini.

Tidak jarang, hawa dingin sering merasuki tubuhnya yang sudah renta ini di kala malam hari melalui sela-sela dinding yang sederhana.

Di beberapa sisi rumah tampak sudah tidak layak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal bagi wanita usia lanjut.

Sukarmi pun mengungkapkan ketakutannya jika suatu saat rumah yang selama ini ia tinggali tersebut roboh lantaran termakan usia dan rapuh.

“Takut roboh, kalau musim hujan pasti ada angin dan kalau hujan angin saya langsung keluar rumah ke masjid, karena takut roboh,” ujar Sukarmi bernada lirih, Minggu (29/11/2020).

ks-ip-helldy

Sukarmi memiliki suami yaitu Abah Asep (78). Suaminya itu sudah 20 tahun silam meninggal dunia, karena sakit yang dideritanya.

Sedangkan anak pertama, Neneng (43) tidak pernah menjenguknya hampir lima tahun lamanya.

Anak keduanya yaitu Dede (38) merantau ke daerah Jawa Timur, sudah 18 tahun tidak ada kabar.

“Semoga saja kedua anak saya bisa peduli dan melihat kondisi saya saat ini. Biar saya bisa bertemu kembali dengan kedua anak saya,” ucapnya.

Tetangga Sukarmi bernama Juanda (37) menjelaskan mengenai kondisi yang sangat memprihatikan karena rumah yang tidak layak huni ditempati seorang diri oleh nenek tua yang seharusnya mendapatkan bantuan dari pemerintah atau pun para dermawan.

“Nenek Sukarmi tinggal seorang diri sejak ditinggal suaminya meninggal dunia 20 tahun yang lalu. Kemudian memiliki dua orang anak, tapi anaknya kurang peduli dengan kondisi dan keadaan orang tuanya saat ini,” kata Juanda.

Sukarmi kesehariannya keliling kampung mencari botol bekas minuman dan dikumpulkannya untuk dijual. Hasil dari penjual botol bekas untuk membeli beras dan lauk pauk untuk dikonsumsinya.

Namun, kalau sedang sakit, sang nenek hanya bisa mengandalkan belas kasihan para tetangganya.

Sementara itu, Kepala Desa Pabuaran Suhendi mengaku pihaknya sudah sering mengusahakan untuk melakukan bedah rumah kepada pemerintah daerah. Namun, hingga kini pengajuan tersebut belum juga terealisasi.

“Kami sudah mengajukan bantuan bedah rumah. Namun, hanya dikasih janji tahun depan. Karena angaran tahun ini fokus dialokasikan ke penanganan Covid-19,” ungkap Suhendi.

Camat Jayanti, Yandri Permana, menambahkan pada intinya masih banyak sekali kebutuhan untuk bedah rumah.

“Maka secara bertahap saya programkan bedah rumah melalui pagu Kecamatan dan saya minta kepada Kepala Desa juga untuk mulai anggarkan di APBDes mulai tahun 2021,” tuturnya.

“Saya juga meminta kepada beberapa perusahaan yang ada di wilayah Kecamatan Jayanti agar menghibahkan dana CSR-nya untuk membangun rumah yang layak huni yang ada di sekitar Kecamatan Jayanti ini,” sambung Yandri.

Yandri berharap semoga tahun depan rumah yang tidak layak huni di Kecamatan Jayanti bisa dibangun secara bertahap.

“Dan semuanya ini harus diajukan dengan proses sistem,” ujarnya. (*/Wartakota)

bb-pcm-helldy
Pagem