www.faktabanten.co.id
Suara Merdeka Rakyat Banten
HAK_Helldy_Al-Khairiyah

Diduga Timbun BBM Ilegal, Lapak di JLS Cilegon Ini Juga Jual BBM Bersubsidi ke Tambang Pasir

0

CILEGON – Dugaan penyelewengan dan penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk kepentingan industri ditenggarai makin marak saja di Kota Cilegon.

Pada praktiknya, yakni berupa penimbunan dan juga mengangkut BBM bersubsidi yang tidak sesuai pada tujuan atau di tengah jalan, yang selama ini diselundupkan oleh para oknum.

Seperti di Jalan Lingkar Selatan (JLS), tepatnya di wilayah Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, yang diduga terdapat lapak penimbunan solar yang diduga ilegal tersebut. Menurut informasi yang dihimpun, solar di lapak tersebut kabarnya untuk mensupplai bahan bakar alat berat excavator ke beberapa tambang pasir di kawasan JLS.

“Coba pantau aja kang, lapak seng yang dekat dengan prapatan Ciberko-Krotek itu. Disitu kabarnya diduga lapak penimbunan solar ilegal yang suka ngirim buat beko di tambang pasir. Coba saja tanyakan perizinannya,” ungkap warga sekitar, Ucup, kepada wartawan, Selasa (3/12/2019) malam.

Ucup menduga ada praktik ilegal di lapak tersebut, pasalnya tidak memiliki izin usaha.

“Soalnya kan kegiatan industri wajib pakai solar non subsidi. Dengan tempat yang seperti itu, saya sanksi kalau pihak pemerintah selaku pemangku otoritas memberikan izin usaha,” tambahnya.

Sementara, saat wartawan coba melakukan pantauan langsung ke lokasi pada malam harinya, awalnya pintu lapak tersebut tampak masih terbuka. Namun kemudian menimbulkan kecurigaan, karena tidak lama setelah kedatangan wartawan, pintu lapak tersebut akhirnya ditutup.

Saat coba mengkonfirmasi, wanita yang mengaku bernama Ayu (isteri dari penunggu lapak) beralasan ditutupnya pintu lapak karena sedang tidak ada orang.

HAK_Dede

“Yang punya lapak sih gak ada di sini, suami saya yang nungguin. Tapi orangnya lagi keluar bang,” ujar Ayu.

Saat ditanyakan apakah lapak yang dikelola suaminya tersebut benar memiliki izin usaha, dan kegiatannya untuk menimbun solar bersubsidi, Ayu mengaku tidak tahu. Meski begitu, Ayu sempat mengakui bahwa kalau solar di lapaknya saat ini sedang kosong.

“Gak tahu saya bang, tanya yang punya lapak saja. Iya bang, barang lagi kosong. Tadi sore juga ada dari lembaga yang datang,” ujarnya, seolah membenarkan bahwa lapak tersebut benar sebagai tempat menimbun solar.

Jika benar dalam lapak di JLS tersebut menimbun solar bersubsisdi dan digunakan untuk kegiatan industri yang wajib menggunakan solar non subsidi, maka ini diduga telah menyalahi Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Gas Bumi (Migas).

Sebagai sumber daya alam strategis tak terbarukan yang tergantung di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasi negara dan diselenggarakan oleh pemerintah.

Yang masuk dalam kategori kegiatan usaha hilir berupa penyimpanan dan pengangkutan, setiap kegiatan usaha harus dilaksanakan oleh Badan Usaha setelah mendapat izin usaha dari pemerintah.

Apabila dugaan tersebut benar, bahwa lokasi tersebut menjadi tempat penyimpanan BBM dengan cara ilegal, maka berpotensi dikenakan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 53 huruf c UU Migas:

“Setiap orang yang melakukan penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Penyimpanan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling tinggi Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah),” jelasnya.

Belum lagi Izin Pengangkutan BBM, yang sama halnya dengan penyimpanan, untuk melakukan pengangkutan juga harus memiliki Izin Usaha Pengangkutan. (*/Ilung)

Loading...

Dapatkan notifikasi lansung ke perangkat Anda, Klik Aktifkan

Loading...

error: www.faktabanten.co.id