Dindik Cilegon: Beubasan Belum Bisa Jadi Pelajaran Mulok di Sekolah

CILEGON – Beubasan atau bahasa Jawa Cilegon dan Serang belum bisa masuk ke dalam pelajaran muatan lokal (Mulok) karena terkendala beberapa prasyarat teknis. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cilegon, Mukhtar Gozali ketika ditemui di kantornya, Jumat (22/12/2017).

Nampaknya masyarakat Kota Cilegon masih harus bersabar apabila Bahasa Jawa Cilegon atau yang dikenal dengan beubasan ingin menjadi muatan lokal yang nanti akan diajarkan ke siswa di sekolah-sekolah Kota Baja ini.

“Beubasan menjadi Mulok sudah mulai berproses, dari mulai Perwal sudah diwujudkan dengan bebasan. Pada prinsipnya kami mendukung itu, akan tetapi jangan hanya sebatas ngomong, karena diproses pembelajaran ini tidak instan, ada tingkatan,” ungkapnya.

Menurutnya, ada beberapa proses yang harus ditempuh agar beubasan ini masuk dalam pelajaran salah satunya adalah penyusunan silabus dan bahan ajar.

“Ada semacam kesepakatan dalam proses belajar mengajar dari kelas 3 SD misalnya, apa saja, kelas 4, kelas 5 dan 6 seperti apa. Itu bukan hal yang mudah akan tetapi harus dilakukan,” ujar Muhtar.

Untuk bahan pengajaran tidak bisa ditulis oleh seseorang guru, namun juga mesti melibatkan dari Dinas Pendidikan Kota Cilegom, karena dalam penentuan program belajar mengajar semuanya dilibatkan. Apalagi hal itu untuk menunjang kesetaraan belajar.

“Mana yang harus didahulukan materinya untuk kelas 3, kelas 4 seperti apa, apabila itu sudah ketemu maka dari bawah akan dorong dan materi bebasan jawa Cilegon itu akan di berikan pada sekolah dasar,” tuturnya.

Dengan demikian, masih lama proses beubasan untuk menjadi muatan lokal, apalagi kalau tidak ada buku panduan atau buku ajar. Kalau bahan kajiannya sudah siap walaupun ada orang yang sukses menulis buku, tidak bisa serta merta langsung digunakan.

“Yang penting jadikan dulu buku ajarnya seperti apa, karena menyusun buku itu bukan sembarang orang, karena harus yang ahli dalam penyususnan, kosa kata dalam bahasa jawa ini terus dikumpulkan mulai dari tokoh-tokoh masyarakat dan semua tingkatannya ada. Kemudian dirangkum dalam sebuah buku dan diskusikan dengan para pakar dan ahli serta pusat bahasa di Banten, nanti seperti apa, itulah prosesnya,” pungkasnya. (*/Asep)