PC GP Ansor Pandeglang Gelar Seminar Deradikalisasi

PANDEGLANG – Salah satu Organisasi Kemasyarakatan Pemuda di Pandeglang menggelar seminar deradikalisasi dengan mengusung tema Pencegahan Radikalisme Wacana dan Perilaku Keagamaan Dikalangan Para Pemuda Dengan Membumikan Islam Rahmatan Lil Alamin yang diselenggaraka langsung di Ponpes Al-falah tepatnya di Jl. Kadomas Kampung Ciekek Hilir Rt. 02/10 No: 03. Kelurahan Karaton Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang.

Seminar ini menghadirkan pembicara yaitu Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjuddin, Ketua Asosiasi Prodi Hukum Tata Negara se Indonesia Muhammad Ishom, dan Deputi Seknas Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat Kaka Hanifa.

Dalam paparannya, Ketua Asosiasi Prodi Hukum Tata Negara se Indonesia Muhammad Ishom mengatakan Fundamentalisme, Radikalisme, dan Terorisme pada dasarnya lahir pada pendidikan yang laten.

“Berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jamaah, pendidikan atau pengajian dilakukan dengan cara terang-terangan tanpa ada yang ditutup-tutupi,” sambungnya.

Sementara itu, Deputi Seknas Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Kaka Hanifa yang mengatakan bahwa serangan agitasi dan provokasi melalui media sosial sangat berdampak signifikan karena mampu menjangkau masyarakat yang sangat luas.

“Jangan sembarangan menyebarkan isu-isu provokatif dan belum tentu kebenarannya,” tegasnya.

Ia melanjutkan, berbicara peran dan tanggung jawab pemuda Islam dalam pengembangan masyarakat seakan tidak pernah usai. Artinya, begitu banyaknya peranan pemuda yang dapat diwujudkan dan dikontribusikan untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara.

“Peranan dan tanggung jawab pemuda diantaranya mencari ilmu dan berdakwah mengajarkan ilmu Allah serta mengajak berdakwah kepada yang lainnya sesuai dengan Al Quran,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjuddin mengatakan, Umat Islam Indonesia adalah umat yang lebih besar jika dibandingkan dengan umat Islam negara lainnya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa umat Islam di Indonesia tidak menguasai sektor-sektor strategis.

“Umat Islam tidak menguasai sektor-sektor strategis seperti ekonomi, politik dan teknologi karena umat Islam diganggu oleh kepentingan lain agar aqidah dan pemikiran umat Islam jauh dari sebenarnya,” terangnya.

Ia menambahkan, pemahaman keliru terjadi karena ilmu yang dangkal dengan mempelajari Al Quran dan Hadis tanpa mempelajari alat bacanya, seperti kitab-kitab yang ditulis oleh pada ulama pendahulu.

“Perintah mendirikan sholat ada di Al Quran sementara tata cara sholat ada pada hadis. Jangankan menguasai ekonomi, politik dan teknologi, menguasai perintah sholat saja tidak dikuasai. Ini ada fenomena atau fakta yang terjadi di lapangan,” paparnya. (*/Oriel)