CILEGON – Layanan antarjemput pasien non-gawat darurat yang disediakan Public Safety Center (PSC) 119 Kota Cilegon menghadapi tingginya permintaan masyarakat.
Berdasarkan data per Senin (14/9/2026), daftar tunggu layanan rujukan bahkan telah mencapai 20 hari ke depan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena layanan transportasi rujukan dibutuhkan masyarakat untuk mengakses fasilitas kesehatan di luar Kota Cilegon, terutama rumah sakit rujukan di wilayah Jakarta.
Kepala UPTD Pelayanan Pelayanan Keselamatan Terpadu (PPKT/Public Safety Center 119) Cilegon, Burhanudin, mengatakan tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan PSC 119 membuat kapasitas armada yang tersedia harus terus dioptimalkan.
“Permintaan masyarakat terhadap pelayanan PSC 119 cukup signifikan. Sangat-sangat signifikan,” katanya, Senin (14/9/2026).
Menurut Burhanudin, sebelum adanya tambahan unit khusus non-gawat darurat, antrean pelayanan rujukan bahkan mencapai 20 hari.
Kondisi tersebut dinilai tidak ideal bagi masyarakat yang membutuhkan layanan transportasi untuk berobat dan rawat jalan di rumah sakit rujukan di Jakarta.
“Permintaan pelayanan rujukan yang sampai sebelum saya mengajukan permintaan unit layanan non-gawat darurat, itu sampai terjadi 20 hari antrean,” ujarnya.
Ia menjelaskan, waktu tunggu hingga berhari-hari menjadi persoalan karena pasien harus menyesuaikan jadwal rujukan dengan rumah sakit tujuan.
“Kalau ngantrenya 1 atau 2 hari masih wajar ya, tapi kalau sudah antreannya di atas 1 minggu atau 10 hari ini ya tidak wajar karena dia harus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit di mana dia dirujuk,” jelasnya.
Kapasitas armada yang terbatas menjadi salah satu penyebab panjangnya daftar tunggu. Satu unit ambulans selama ini hanya dapat membawa sejumlah pasien dalam satu perjalanan.
“Satu unit ambulans itu berisi 4 pasien ditambah dengan pendamping, maka sudah bisa dihitung dalam 20 hari itu sudah berapa banyak pasien yang menanti layanan kami,” katanya.
Tambahan armada non-gawat darurat kemudian diberikan Pemerintah Kota Cilegon pada Juli 2026.
Kendaraan tersebut selanjutnya diberi nama Si Nong sebagai singkatan dari transportasi non-gawat darurat.
“Alhamdulillah pada tahun ini diserahkan langsung oleh Pak Wali kemarin ya. Kita coba berikan nama “Si Nong”, unit layanan non-gawat darurat,” ujarnya.
Si Nong merupakan shuttle bus berkapasitas 18 tempat duduk dengan jenis kendaraan Toyota Hiace.
Armada yang mulai beroperasi Juli 2026 itu diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengangkutan pasien rujukan dalam satu kali perjalanan.
Burhanudin menilai tambahan armada tersebut mulai memberikan solusi terhadap persoalan daftar tunggu yang sebelumnya cukup panjang.
“Dengan adanya bantuan unit layanan non-gawat darurat yang diserahkan oleh Pak Wali kemarin itu bisa menyelesaikan permasalahan waiting list,” katanya.
Ia menyebut, pendaftar layanan rujukan masih cukup banyak, terutama pasien yang harus mendapatkan pelayanan di sejumlah rumah sakit rujukan di Jakarta, seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
“Banyak pendaftar baru rujukan yang ke Dharmais, Cipto, ke ya yang lainnya lah sekitar Jakarta. Dan sampai hari ini ya kita memang masih cukup direpotkan dengan antrean ini,” jelasnya.
Dengan kapasitas 18 penumpang, Si Nong dinilai dapat membuat penggunaan armada menjadi lebih efisien.
Pasien yang sebelumnya membutuhkan dua unit ambulans dapat diangkut dalam satu perjalanan menggunakan kendaraan tersebut.
“Biasanya 3 unit itu 12 pasien, dengan adanya Si Nong ini (karena Si Nong ini 18 seat ya isinya), berarti kalau umpamanya 8 atau 9 pasien bisa diakomodasi di satu unit layanan itu. Yang mestinya 2 unit jadi 1 unit,” ujarnya.
Burhanudin optimistis penambahan kapasitas tersebut dapat mempercepat pelayanan sekaligus mengurangi antrean pasien yang membutuhkan transportasi rujukan.
“Kalau lihat dari daftar tunggu, 2 lagi lah, dengan model Si Nong kayaknya 3 unit bisa terbawa semua,” katanya.
Ia berharap setelah pola pelayanan dengan Si Nong berjalan stabil, daftar tunggu pasien dapat ditekan hingga tidak lagi terjadi antrean panjang.
“Kalau nanti sudah stabil, beres kayaknya tidak ada antrean,” pungkasnya.***