CILEGON – Sapto Adi, seorang pemudik yang biasanya merayakan Idul Fitri di kampung halamannya, tahun ini merasakan pengalaman yang berbeda.
Kali ini, ia membawa buah hati tercintanya yang baru berusia sekitar 4-5 tahun, bersama istri dan juga anak pertamanya yang berusia sekitar 13-15 tahun menuju kampung halaman di Lampung Selatan.
Namun, perjalanan mereka menggunakan motor walaupun harus berboncengan 4 sekaligus barang bawaan.
“Sudah dua kali lewat sini (Pelabuhan Ciwandan). Kalau biasanya kan lewat Merak,” ujar Sapto Adi saat ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Banten, pada Sabtu (6/4/2024) dini hari.
Perjalanan dimulai dari Cikarang, Bekasi, tempat tinggal mereka.
“Dari Cikarang, cuma kalau saya asli Kediri dan istri asli Lampung,” tambahnya.
Namun, perjalanan tidak semulus yang diharapkan. Anak Sapto yang berusia 4-5 tahun sedang sakit gigi, membuat mereka sering berhenti istirahat di sepanjang perjalanan.
“Banyak istirahat tadi di jalan, ya anak minta susu lah, terus rewel juga, karena lagi sakit gigi,” ungkapnya.
Meskipun demikian, arus lalu lintas masih terbilang lancar, kecuali di Jakarta yang mengalami kemacetan.
Para pemudik mulai ramai datang ke Pelabuhan Ciwandan untuk menyeberang ke Pulau Sumatera.
Mereka membawa barang bawaan yang diikat pada bagian belakang motor atau ditaruh di bagian depan.
Beberapa pemudik motor juga menempelkan tulisan lucu di kendaraannya, menambah semangat dan keceriaan di tengah perjalanan yang melelahkan.
“Jangan ikuti saya, saya juga baca google maps,” tulis salah satu pemudik.
Mayoritas pemudik motor berasal dari wilayah Jabodetabek, termasuk Cikarang, Bekasi, Jakarta, Tangerang, dan Serang. Ada juga yang menggunakan plat nomor BE atau motor dari Lampung yang tinggal di Pulau Jawa.
Meskipun perjalanan penuh dengan tantangan, Sapto dan keluarganya tetap bersemangat untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman. (*/Hery)