SERANG – Tim SAR gabungan memutuskan tidak akan membuka kembali operasi pencarian kapal cepat Arupadhatu 1 yang hilang di perairan Selat Sunda, meski satu dari delapan orang di dalamnya ditemukan selamat di Pulau Enggano, Bengkulu.
Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, mengatakan operasi pencarian sudah dilakukan sesuai prosedur, yakni selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari hingga mencapai total pencarian 10 hari.
Kendati demikian, Amrad mengungkapkan, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, menyisir dan terus mengupdate guna mendapatkan informasi lanjut apabila ditemukan korban lainnya.
“Kita masih melakukan pencarian di lokasi hilangnya para korban,” kata dia dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Rabu (23/9/2026).
Ia menyebut sejak hari Kamis, tanggal 17 September tim gabungan masih melakukan penyisiran, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun kapal.
“Dari SAR gabungan masih menyisir. Masalah pencarian ulang, secara aturan kita itu melaksanakan pencarian 7 hari, diperpanjang sampai 10 hari, tidak ada tanda-tanda korban,” ujarnya.
Menurutnya, apabila setelah masa perpanjangan berakhir, operasi dapat dihentikan atau dialihkan menjadi pemantauan tanpa batas waktu.
“Jika setelah masa perpanjangan korban tetap tidak ditemukan dan tidak ada tanda-tanda penemuan, operasi dapat ditutup atau dialihkan menjadi pemantauan atau pengawasan tanpa batas waktu,” jelasnya.
Al Amrad menambahkan, pihaknya akan tetap mengandalkan informasi dari pelaut dan nelayan yang melintas di Selat Sunda dan sekitarnya.
Sebelumnya diberitakan, satu dari delapan korban Arupadhatu 1 ditemukan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Korban tersebut merupakan salah satu kru kapal.
Dalam konferensi pers, Kapolda Banten, Irjen Pol Hengky mengatakan, temuan tersebut menjadi informasi penting untuk pengembangan pencarian.
“Dengan ditemukannya satu korban, sementara pencarian meminta bantuan transportasi laut bilamana menemukan seperti di Pulau Enggano, maka segera memberitahukan kepada petugas, supaya kita lakukan hal yang sama seperti yang ditemukan sekarang ini,” kata dia.
Hingga kini, keberadaan kapal Arupadhatu 1 masih misterius. Polisi belum dapat memastikan apakah kapal tersebut tenggelam, terbakar, atau mengalami kejadian lain.
“Kepastian keseluruhan kapal itu terbakar, tenggelam tidak diketahui, karena sampai sekarang kapal itu tidak ditemukan, belum jelas ditenggelam atau apa, saya tidak menjawab itu,” pungkasnya.
Diketahui, Arupadhatu 1 membawa delapan orang, terdiri dari lima wartawan dan tiga kru kapal.
Mereka hilang kontak saat berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau hendak meliput aktivitas erupsi pada Senin, 7 September 2026 lalu.***