Belajar dari Tsunami 2018 di Banten, BMKG Pasang Radar Canggih di Selat Sunda untuk Deteksi Dini

SERANG– Pasca tsunami Selat Sunda 2018, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Provinsi Banten.

Plt Kepala BMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan, dua alat utama High Frequency (HF) Radar telah dipasang di Cinangka dan Tanjung Lesung untuk memantau gelombang dan arus laut di Selat Sunda.

“Yang paling berpotensi tsunami di Selat Sunda, makanya kami pasang dua HF Radar di Cinangka dan Tanjung Lesung. Jangkauannya sampai 200 kilometer,” kata dia, Kamis (8/10/2026).

Dengan HF Radar, BMKG bisa mendeteksi lebih awal jika terjadi kenaikan muka air laut yang berpotensi tsunami, sehingga informasi bisa lebih cepat disampaikan ke masyarakat.

Selain HF Radar, BMKG juga memasang automatic water level di Pantai Labuan, serta tide gauge dan buoy di beberapa titik.

Di Merak, BMKG juga memasang HF Radar khusus untuk memantau arus dan gelombang di jalur penyeberangan Merak-Bakauheni.

“Setelah tsunami 2018, banyak peralatan yang kami siapkan. Cara kerjanya memancarkan gelombang elektromagnetik ke permukaan laut, lalu diolah sistem kami menjadi data gelombang,” jelas Ana.

Menurut Ana, sistem mitigasi saat ini jauh lebih siap dibanding 2018. Namun ia mengingatkan waktu evakuasi tetap sangat terbatas, rata-rata hanya 10-20 menit setelah gempa.

“Biasanya 3 menit setelah gempa, BMKG langsung keluarkan informasi potensi tsunami,” ujarnya.

Untuk memperkuat peringatan dini, BMKG mencatat ada lima sirene dan lima tide gate yang tersebar di Banten, termasuk di Tanjung Lesung dan Labuan.

Sirene tersebut akan dibunyikan oleh BPBD setelah mendapat informasi dari BMKG.***

BantenBMKGSirine
Comments (0)
Add Comment