SERANG – Kinerja sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan di Provinsi Banten mengalami perlambatan pada Triwulan II 2026.
Kondisi tersebut terjadi setelah sektor tanaman pangan mencatat produksi tinggi pada awal tahun, sementara subsektor perikanan tetap tumbuh positif dan menjadi salah satu penopang kinerja sektor pertanian.
Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi musim panen setelah tingginya produksi tanaman pangan pada Triwulan I 2026.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah, mengatakan perlambatan sektor pertanian merupakan bagian dari siklus produksi yang terjadi setelah berakhirnya masa panen raya.
Hal itu disampaikan Rawindra dalam Taklimat Media BI Banten bersama awak media di salah satu restoran di Kota Serang, Sabtu (8/8/2026).
“Kinerja sektor pertanian melambat akibat normalisasi musim panen setelah capaian tinggi pada Triwulan I 2026,” ujar Rawindra saat memaparkan indikator pendukung perekonomian daerah.
Berdasarkan data indikator pendukung Lapangan Usaha (LU) Pertanian BI Banten, penurunan paling signifikan terjadi pada subsektor tanaman pangan. Kondisi tersebut dipengaruhi berakhirnya masa panen raya dan pergeseran pola musim panen.
Produksi padi di Banten pada periode tersebut tercatat turun 15,51 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara produksi jagung pipilan kering tercatat mengalami penurunan lebih dalam, yakni sebesar 39,15 persen (yoy).
Menurut Rawindra, penurunan produksi tanaman pangan tersebut masih mencerminkan pola normalisasi produksi dan musim tanam.
“Jadi, laju pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan pada pertengahan tahun ini memang tidak setinggi capaian pada awal tahun,” katanya.
Di tengah perlambatan subsektor tanaman pangan, subsektor perikanan justru masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Kondisi ini membantu menjaga kinerja sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Banten agar tidak mengalami tekanan yang lebih dalam.
Data KPw BI Banten mencatat produksi perikanan tangkap tumbuh 1,584 persen (yoy). Sementara perikanan budidaya tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 3,364 persen (yoy).
“Meskipun tanaman pangan melambat, produksi perikanan tetap tumbuh positif sehingga mampu menopang dan menjaga kinerja sektor pertanian secara keseluruhan,” tutur Rawindra.
Selain menjaga produksi, efisiensi biaya usaha tani menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kinerja sektor pertanian di Banten. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah efektivitas penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani.
BI Banten mencatat keberadaan pupuk bersubsidi memberikan dampak terhadap efisiensi biaya operasional petani padi.
Dengan adanya subsidi pupuk, biaya usaha tani disebut dapat ditekan sekitar 20 persen, dari rata-rata Rp10 juta menjadi sekitar Rp8 juta per hektare.
Untuk menjaga kelancaran produksi dan rantai pasok pangan, ketersediaan pupuk bersubsidi di sejumlah wilayah sentra produksi, termasuk Kabupaten Lebak, disebut masih dalam kondisi aman dan mencukupi.
Berdasarkan realisasi penyaluran pupuk bersubsidi pada Semester I 2026 di Kabupaten Lebak, pupuk urea telah tersalurkan sebesar 22,74 persen dari total kuota.
Sementara pupuk NPK terealisasi 29,04 persen dan pupuk organik sebesar 5,34 persen dari kuota yang tersedia.
BI Banten berharap ketersediaan pupuk bersubsidi, penguatan subsektor perikanan, serta perbaikan rantai distribusi dapat menjaga ketahanan produksi pangan sekaligus mendorong sektor pertanian kembali tumbuh lebih kuat pada triwulan berikutnya.***