Masjid Nabawi Dekat Pintu Nomor 19, Ada Ustadz Asal Indonesia Rutin Mengisi Pengajian Setiap Ba’da Shalat Magrib 

 

MADINAH – Jemaah haji Indonesia jika ingin menambah ibadah dan mendapatkan keberkahan ilmu saat berada di Tanah Suci Madinah, bisa menyempatkan diri untuk belajar dari seorang guru atau ulama asal Indonesia yang ada di Madinah.

Salah satunya adalah jadwal pengajian rutin yang dibimbing oleh Ustadz DR. Ariful Bahri, dosen Universitas Islam Madinah (UIM), yang merupakan ulama asli keturunan Kabupaten Kampar, Riau.

Pengajian Ustadz DR. Ariful Bahri ini berlangsung setiap ba’da Shalat Mahgrib hingga Isya.

Tempatnya di salah satu area dekat Masjid Nabawi, atau dekat dengan Pintu Nomor 19 Masjid Nabawi.

Penyampaian materi dan ilmu dalam pengajian Ustadz DR. Ariful Bahri ini menggunakan bahasa Indonesia dan Melayu.

Tidak heran, majelis ilmunya nampak selalu ramai oleh kehadiran jemaah Indonesia maupun Malaysia.

Selepas Shalat Magrib, jemaah yang sudah tahu berbondong-bondong mendatangi Pilar dekat Pintu 19 Masjid Nabawi untuk mendengarkan kajian ilmu yang fokus membahas seputar manasik haji.

Meski ada beberapa halaqah lain, jemaah Tanah Air lebih memilih mendengar ceramah dari sesama anak bangsa, dengan bahasa yang tentunya mudah dimengerti.

Salah satu jemaah asal Pasarkemis, Tangerang, Murtadho, mengaku rutin mengikuti pengajian Ustadz Ariful sejak tiba di Madinah tiga hari lalu.

“Alhamdulillah, sudah tiga hari ini saya ikut kajian beliau,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Ustadz Ariful Bahri sendiri merupakan Doktor di bidang ilmu Akidah. Dia telah menjadi pengajar pengajian di Masjid Nabawi sejak tahun 2019.

Dalam penyampaiannya kali ini, Ustadz Ariful Bahri menyampaikan pesan yang menggugah tentang Haji Mabrur.

“Haji mabrur itu berat, tidak ringan. Bukan diukur di sini (Tanah Suci), karena di sini semua orang mudah berbuat baik. Yang menjadi ukuran adalah ketika kita pulang ke kampung halaman,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan ciri-ciri haji mabrur:

– Masih sanggup shalat berjamaah, terutama Subuh

– Masih rajin membaca Al-Qur’an

– Masih gemar berzikir dan menangis karena Allah

– Tetap menjaga diri dari hal-hal yang dilarang

“Haji mabrur itu mendatangkan kebaikan dalam kehidupan. Mengubah yang buruk menjadi baik, dan yang baik menjadi lebih baik. Bukan sekadar dapat sertifikat haji, lalu kembali seperti biasa,” pungkasnya.

Ustadz Ariful juga mengutip hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa balasan haji mabrur adalah surga, dan ciri orang yang haji mabrur adalah pulang dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

Kehadiran Ustadz Ariful Bahri mengajar di Masjid Nabawi ini ternyata bukan hanya pada musim haji saja. Dia bahkan secara rutin menggelar halaqah di luar musim haji.

Jika di luar musim haji, kajian Ustadz Ariful Bahri ini diketahui fokus pada dua hal, yaitu keutamaan-keutamaan kota Madinah dan sejarahnya.

Kisah dan pengajian Ustadz Ariful Bahri ini menjadi pengingat penting bagi ribuan jemaah Indonesia yang sedang berada di Tanah Suci bahwa melaksanakan ibadah haji harus dilandasi ilmu dan keikhlasan.

Haji merupakan ibadah puncak yang menuntut perbaikan diri dan kesetiakawanan seluruh ummat, dimana sesungguhnya nilai kemabruran ibadah haji akan diuji setelah kembali ke tanah air. (*/Red)

Ariful BahriMadinahMasjid Nabawi
Comments (0)
Add Comment