LEBAK– Persoalan sampah di Kabupaten Lebak semakin menjadi perhatian. Volume sampah harian yang terus meningkat belum sebanding dengan kemampuan pengangkutan yang dimiliki pemerintah daerah.
Keterbatasan armada serta tingginya biaya operasional disebut menjadi hambatan utama dalam penanganan sampah di sejumlah wilayah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak mencatat timbulan sampah di daerah tersebut mencapai sekitar 600 ton per hari. Namun dari jumlah itu, hanya sekitar 250 ton yang mampu diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala DLH Lebak, Ivan Suyutifika, mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian sampah akhirnya dibakar, dipendam, bahkan dibuang sembarangan oleh masyarakat.
“Jumlah sampah terus bertambah, sementara kemampuan pengangkutan masih terbatas,” ujarnya.
Menurut Ivan, saat ini DLH hanya memiliki 16 unit dump truck dan dua kendaraan pick up untuk melayani wilayah Kabupaten Lebak yang cukup luas. Akibatnya, layanan pengangkutan sampah belum dapat menjangkau seluruh kecamatan.
Selain minim armada, kenaikan biaya bahan bakar minyak juga ikut membebani operasional pengelolaan sampah. Kendaraan pengangkut kini menggunakan BBM non-subsidi sehingga pengeluaran bulanan meningkat cukup signifikan.
“Biaya operasional terutama BBM sekarang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya,” katanya.
Di sisi lain, persoalan sampah juga dipengaruhi rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sampah masih banyak ditemukan di trotoar, drainase hingga pinggir jalan.
Kondisi tersebut dinilai memperparah persoalan lingkungan, terutama saat hujan turun dan saluran air tersumbat sampah.
DLH juga menyoroti bertambahnya limbah dari aktivitas harian masyarakat dan penggunaan kemasan sekali pakai yang ikut meningkatkan volume sampah setiap hari.
Untuk mengurangi beban penanganan, masyarakat diminta mulai memilah sampah dari rumah tangga.
Sampah organik dinilai masih dapat dimanfaatkan menjadi kompos sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA bisa ditekan.
“Penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Perlu keterlibatan masyarakat juga,” ucap Ivan.
Persoalan sampah di Lebak kini tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesiapan fasilitas, biaya operasional, dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga. (*/Sahrul).