LEBAK- Jalan Tol Serang-Panimbang masih menghadapi tantangan untuk mencapai target pendapatan sesuai proyeksi awal. Meski aktivitas kendaraan terus berjalan, realisasi pemasukan ruas tol tersebut saat ini masih berada di bawah perhitungan bisnis yang telah disusun sebelumnya.
Manajer Wika Serang-Panimbang, Muhammad Agi Al Hasani, mengungkapkan pendapatan Tol Serang- Panimbang Seksi 1 saat ini berada pada kisaran Rp6 miliar hingga Rp8 miliar per bulan.
Menurut Agi, angka tersebut belum bersifat tetap karena sangat dipengaruhi oleh tingkat mobilitas masyarakat. Lonjakan kendaraan biasanya terjadi pada periode tertentu seperti arus mudik Lebaran, libur sekolah, Natal dan Tahun Baru, maupun masa libur panjang.
“Pendapatan tol masih bersifat variatif mengikuti kondisi lalu lintas kendaraan. Ketika aktivitas perjalanan meningkat, pendapatan juga mengalami kenaikan,” ujar Agi kepada Fakta Banten, Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan kajian kelayakan awal atau Feasibility Study serta Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), target pendapatan Tol Serang-Panimbang diproyeksikan berada di kisaran Rp17 miliar hingga Rp18 miliar per bulan.
Namun, target tersebut belum tercapai karena ruas tol masih berada pada tahap pengembangan, terutama karena wilayah yang dilalui masih membutuhkan pertumbuhan aktivitas ekonomi.
“Jalan tol ini masih baru dan beroperasi di kawasan yang sedang berkembang. Peningkatan trafik kendaraan harus berjalan bersama dengan perkembangan wilayah,” katanya.
Agi menuturkan, pengembangan kawasan sekitar jalan tol menjadi faktor penting dalam meningkatkan jumlah pengguna. Menurutnya, keberadaan pusat ekonomi baru, kawasan industri, maupun aktivitas masyarakat akan ikut memengaruhi pertumbuhan lalu lintas.
Dalam dua tahun terakhir, Wika mencatat akumulasi pendapatan Tol Serang-Panimbang mencapai sekitar Rp 85 miliar dengan pertumbuhan sekitar 2,3 persen.
Pihak perusahaan berharap sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat mempercepat pertumbuhan kawasan sehingga manfaat jalan tol dapat semakin dirasakan.
“Pengembangan jalan tol tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada pertumbuhan wilayah yang berjalan bersama agar konektivitas yang dibangun memberikan dampak ekonomi,” pungkas Agi. (*/Sahrul).