Cerita Nenek Jumaria, Ikon Haji Makkah Route yang Rela Makan Daun Ubi Demi Berangkat ke Tanah Suci

 

MADINAH – Wajah Jumaria tampak teduh saat menceritakan perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci.

Di usianya yang tak lagi muda, perempuan sederhana itu akhirnya bisa menginjakkan kaki di Madinah setelah bertahun-tahun menabung dari hasil bekerja di sawah dan kebun.

Perjalanan hajinya bukanlah kisah tentang kemewahan atau penghasilan besar.

Setiap rupiah yang dikumpulkan berasal dari kerja keras dan pengorbanan hidup yang dijalani dengan penuh kesabaran.

Dengan suara pelan, Jumaria mengenang rutinitasnya sehari-hari. Sejak pagi buta ia sudah berangkat ke sawah membawa bekal seadanya demi menyambung hidup sekaligus menyisihkan uang untuk berangkat haji.

“Kerja sawah. Kalau pagi jam 6 pergi, bawa air setengah liter. Habis itu pulang. Pulang mandi, sudah mandi, makan. Sudah makan tidur sedikit, baru shalat,” ujarnya.

Jumaria adalah seorang yang nenek yang wajahnya viral di media sosial, setelah Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.

Nenek Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 ini karena kisahnya yang luar biasa. Ditambah lagi, kondisi fisiknya yang masih bugar dan kuat, meskipun usianya sudah hampir 70 tahun.

Nenek Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah, cukup berjarak dari penduduk lain di kampungnya.

Selama ini, si nenek menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani. Tapi penduduk dari Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Maros, Sulawesi Selatan itu, ternyata menjadikan kegiatan bertaninya mampu menghantarkannya ke Tanah Suci.

Si Nenek mengaku, hasil panen yang diperoleh tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan disimpan sedikit demi sedikit sebagai tabungan haji.

“Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan,” katanya.

Tak hanya dari sawah, ia juga menerima upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh uang itu tetap ia simpan dengan disiplin.

“Kadang 500, kadang 700. Ada lagi tu punya kebun yang kukerja, dia kasih Kak 200, saya simpan. Kalau ada makanan dibawakan, saya simpan semua 200,” tuturnya.

Bagi Jumaria, menyimpan uang menjadi perjuangan tersendiri. Ia tidak memiliki tempat khusus untuk menabung. Uang hasil kerjanya disembunyikan di berbagai tempat sederhana agar aman dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.

“Kalau pertama dikasih, saya simpan begini. Bawa ini, bawah kasur. Jadi pergi, saya simpan mi di ember-ember,” katanya.

Ia bahkan menyimpan uang itu di dekat tempat tidurnya lalu menutupinya dengan kain-kain bekas agar tidak diketahui orang lain.

“Dibawah tempat tidur. Bawa tempat tidurnya ya. Iya, baru saya tutup kain-kain jelek toh, supaya tidak ada tahu. Gitu cucuku bilang ‘ada uang di sini’,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Tabungan itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Ada kalanya ia hanya bisa menyimpan uang recehan, namun tekadnya untuk berhaji tidak pernah surut.

“Kadang 50, kadang 20, kadang 100, kadang 200 gitu, hampir mi kapan 20 tahun,” katanya.

Selama bertahun-tahun, ia berusaha keras agar uang yang sudah disimpan tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat hidup serba kekurangan, ia memilih bertahan dengan makanan seadanya.

“Kalau kumasukkan di ember, saya tidak ambil belikan, endak,'” tuturnya.

Kesederhanaan itu dijalani tanpa keluhan. Saat tidak memiliki lauk, ia memasak daun ubi yang ada di sekitar rumah agar tabungan hajinya tetap utuh.

“Ndak. Ambil saja anu, daun ubi, saya masak. Masak masak yang ada saja. Iya. Saya tidak mau ambil itu yang kusimpan,” katanya.

Sesekali, ia menikmati telur dari ayam peliharaannya untuk makan sehari-hari. Bagi Jumaria, hidup sederhana bukan masalah selama impian ke Tanah Suci tetap bisa diperjuangkan.

“Eh biasa anu, masak-masak sayur. Baru makan: Iya. Besok-besok bertelur ayamku, saya ambil mi. Saya masak telur ayam,” ujarnya.

Kini, seluruh perjuangan panjang itu terbayar lunas. Di Tanah Suci, Jumaria hanya bisa bersyukur karena cita-cita yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.

“Masih ada Mamak, saya kumpul-kumpul sedikit-sedikit,” katanya. (*/Red/MCH-2026)

Haji 2026Jemaah haji IndonesiaJumariaMakkahPPIH
Comments (0)
Add Comment