MADINAH – Dua remaja putri yang merupakan jemaah haji asal Pulang Pisang, Kalimantan Tengah, sempat tertahan di pemeriksaan Imigrasi, sejak siang hingga Sabtu sore (2/5/2026) waktu Arab Saudi.
Jemaah embarkasi Banjarmasin itu tertahan saat hendak keluar dari Bandara Internasional Amir Mohammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah, akibat kendala validasi visa.
Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah, keduanya sempat khawatir karena tertahan begitu lama.
Namun dengan kesigapan Petugas PPIH Daker Bandara, mereka akhirnya bisa tenang menunggu.
PPIH Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir mengonfirmasi bahwa kedua remaja tersebut sempat mengalami pembatalan visa secara sistem saat proses pemeriksaan dokumen keimigrasian di pintu kedatangan Bandara AMAA.
PPIH bersama KJRI, dan pihak Kementerian Haji dan Umrah RI segera memberikan pendampingan kepada dua jemaah tersebut, dan melakukan negosiasi dengan Otoritas Arab Saudi.
“Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, visa keduanya bisa diterbitkan kembali. Kami meminta bantuan Kemenhaj di Jakarta untuk proses validasi ulang karena visa mereka sempat tercancel,” ujar Abdul Basir
Setelah kembali terbit visa haji, kedua remaja putri dan keluarganya itu akhirnya diantarkan ke hotel tempat mereka menginap bersama jemaah satu kloternya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi cepat antara petugas PPIH di lapangan dengan otoritas terkait.
“Keduanya kami antarkan ke hotel tempat tinggalnya di Madinah bersama orang tuanya. Alhamdulillah mereka bisa berkumpul kembali dengan jemaah kloternya,” terangnya.
Novia Ghina, jemaah haji remaja itu mengaku sempat merasa panik dan bingung saat dilarang masuk oleh petugas imigrasi.
“Awalnya panik, disuruh nunggu berjam-jam. Paspor juga tidak ada di tangan karena sedang diproses. Paniklah, masa tidak,” ungkapnya.
Novia bersyukur di tengah kepanikan dan kebingungan, ternyata segera datang bantuan pendampingan dari petugas haji Indonesia di Bandara.
“Rasanya senang, alhamdulillah bisa lolos imigrasi dan bisa melaksanakan ibadah haji bersama keluarga. Kami ucapkan terima kasih kepada para petugas haji dan juga kemenhaj RI yang membantu kami,” ungkapnya didampingi ibundanya.
Jemaah remaja lainnya, Rabiatul Adawiyah juga mengaku sempat merasa panik saat dirinya tidak diperbolehkan keluar dari Bandara.
Ia mengaku sangat terbantu oleh kesigapan petugas haji dan pihak maskapai Garuda yang ikut memberikan pendampingan selama mereka tertahan di imigrasi.
“Deg-degan dan panik, tapi alhamdulillah ada bantuan yang tiba-tiba datang. Terima kasih banyak untuk para petugas yang sudah membantu kami,” tutur Rabiah.
Meski sempat mengalami kendala administratif di bandara, kedua remaja ini menyatakan tetap semangat dan siap melaksanakan rangkaian ibadah haji.
Mereka mengaku telah mengikuti manasik haji dengan baik dan belajar melalui riset mandiri dari internet sebagai bekal selama di Tanah Suci.
Kini, kedua jemaah termuda tersebut telah bergabung kembali dengan kloternya dan siap menjalankan rangkaian ibadah selama di Madinah. (*/Red)