MADINAH – Layanan kesehatan jemaah haji Indonesia di Madinah mengalami peningkatan seiring dengan jumlah kedatangan jemaah.
Tercatat hingga hari ke-10 operasional haji, Jumat (1/5/2026), layanan kesehatan berjalan intensif di seluruh lini, mulai dari kloter, sektor, hingga fasilitas rujukan.
Dari catatan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), terdapat 9 kasus layanan kegawatdaruratan dan rawat jalan, dengan total kumulatif mencapai 76 kasus.
Adapun penyakit jantung hipertensi atau hypertensive heart disease, menjadi kasus terbanyak yang ditangani.
Dengan kasus ini, KKHI siaga penuh tetap prima melayani kesehatan jemaah.
Untuk jemaah yang dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi, tercatat sebanyak 42 orang dan masih menjalani perawatan, dengan total kumulatif rawat inap mencapai 93 kasus.
Penyakit pneumonia menjadi diagnosis terbanyak pada kasus rawat inap.
Pada layanan kesehatan kloter, tercatat 633 jemaah menjalani rawat jalan dalam satu hari, dengan total kumulatif mencapai 5.155 kasus.
Tiga penyakit terbanyak yakni hipertensi primer dengan 736 kasus, infeksi saluran pernapasan atas atau flu sebanyak 493 kasus, serta myalgia atau nyeri otot dengan 331 kasus.
Sementara itu, layanan kesehatan sektor menangani 4 kasus kegawatdaruratan pada hari yang sama, dengan total kumulatif 78 kasus.
Diagnosis terbanyak meliputi diare dan gastroenteritis dengan 17 kasus, hipertensi tercatat 15 kasus, serta flu biasa dengan 7kasus.
Aktivitas tinggi juga terdapat pada layanan farmasi dengan 512 pelayanan obat dan total kumulatif 4.170 layanan. Tiga jenis obat yang paling banyak digunakan adalah Paracetamol 500 mg atau 4.874 penggunaan, Amlodipin 5 mg (1.932), dan Amoksisilin 500 mg (1.752).
Di sisi lain, laporan mencatat terdapat 2 jemaah wafat pada hari Jum’at (1/5/2026), sehingga total kumulatif jemaah wafat hingga hari ke-10 mencapai 7 orang.
Kepala Seksi Kesehatan KKHI Madinah, dr. Enny Nuryanti, mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan di tengah aktivitas ibadah yang mulai meningkat.
Ia meminta petugas kesehatan kloter dan sektor untuk aktif mengawasi jemaah, terutama yang berisiko tinggi.
“Khususnya yang memiliki penyakit penyerta, harus dipastikan dalam kondisi terkontrol. Aktivitas perlu dibatasi agar tidak terjadi kelelahan sebelum puncak ibadah,” ujarnya, (2/5/2026)
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) serta pendampingan bagi jemaah lanjut usia saat beraktivitas di luar hotel.
“Untuk jemaah lansia, sebaiknya tidak bepergian sendiri. Harus ada pendamping agar lebih aman,” tambahnya.
Khusus bagi jemaah yang telah tiba di Makkah, dr. Enny mengimbau agar tidak terburu-buru menjalankan umrah.
“Jemaah yang baru sampai sebaiknya beristirahat terlebih dahulu. Jika akan melaksanakan umrah, dianjurkan pada malam hari agar lebih nyaman dan tidak terpapar panas,” jelasnya.
Dengan suhu siang hari di Madinah yang mencapai 36°C, menjaga stamina dan mengatur aktivitas menjadi kunci utama agar jemaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan aman dan lancar.
Sebagai informasi, sebanyak 62.905 jemaah yang tergabung dalam 133 kloter telah tiba di Madinah, atau sekitar 50 persen dari total rencana kedatangan gelombang pertama jemaah haji Indonesia di Madinah. (*/Ajo)