MAKKAH – Proses lempar Jumrah Aqabah jemaah haji Indonesia berjalan lancar pada 10 Dzulhijjah 1447 H/27 Mei 2026.
Setelah mabit (bermalam) di Muzdalifah, seluruh jemaah berhasil dievakuasi ke Mina sebelum pukul 07.00 Waktu Arab Saudi (WAS), lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.
Dari Muzdalifah, jemaah yang mabit maupun marur mabit diberangkatkan menggunakan bus menuju tenda-tenda di Mina.
Setelah transit sejenak, mereka melanjutkan perjalanan kaki menuju area jamarat.
Jarak dari tenda ke jamarat ditempuh sekitar 45 menit dari total waktu tempuh 3,5 jam.
Meski jalur menuju jamarat sedikit menanjak, medan yang landai membuat perjalanan terasa ringan. Begitu pula saat kembali ke tenda, jalur menurun tidak terasa melelahkan.
Kenyamanan juga dirasakan di area jamarat yang kini dilengkapi pendingin udara. Udara sejuk menyambut jemaah yang tengah menunaikan rukun haji.
Sepanjang perjalanan di terowongan Mina, kumandang talbiyah menggema. Ada yang melantunkan pelan seorang diri, ada pula rombongan yang menggunakan pengeras suara.
Beberapa jemaah bahkan mengenang Tragedi Mina 1998 yang menewaskan sekitar 118 orang, sebagai pengingat pentingnya disiplin dalam beribadah.
Tahun ini, otoritas Arab Saudi memperketat pengaturan arus. Pemisahan jalur berangkat dan pulang dibuat permanen dengan pembatas fisik, sehingga pergerakan jemaah lebih tertib, aman, dan nyaman.
Di jamarat, jemaah melempar tujuh kerikil ke Jumrah Aqabah sambil melafalkan doa. Simbol perlawanan terhadap godaan keburukan itu dilanjutkan dengan tahalul awal. Banyak jemaah laki-laki yang memilih mencukur gundul sebagai tanda pembersihan diri.
Evakuasi Muzdalifah
Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam, Laksamana Pertama Harus Arrasyid, menyebut tahun ini ada capaian operasional baru. Pada pukul 06.45, seluruh jemaah Indonesia sudah kosong dari Muzdalifah. Bus terakhir berangkat ke Mina tepat pukul 07.00.
“Capaian ini berkat sistem pembukaan dua jalur. Awalnya bus masuk dari sisi kiri, sementara bus dari Arafah turun di sisi kanan. Setelah jemaah dari Arafah habis saat subuh, kami buka dua jalur sekaligus. Antrean langsung terurai,” jelas Harus.
Ia berharap capaian ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan tahun depan, dengan disiplin arus pergerakan dari Arafah ke Muzdalifah, lalu ke Mina, serta strategi yang lebih matang dari Satgas Armuzna.(*/Red/MCH-2026)