Hadapi Tantangan Zaman, DDII DKI Jakarta Tekankan Pendekatan Empati dan ‘Dakwah Bil Hal’

JAKARTA — Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar Halaqah Pengurus & Kader Pertemuan Ke-2 secara daring melalui platform Zoom Meeting pada Senin (6/7/2026).

Kegiatan rutin ini menjadi bagian dari komitmen strategis organisasi dalam mencetak kader dakwah yang berilmu, berkarakter, serta memiliki militansi tinggi dalam mensyiarkan Islam di wilayah ibu kota.

​Pada pertemuan kali ini, materi disampaikan langsung oleh Ketua Bidang Kaderisasi & Peningkatan SDM DDII DKI Jakarta, Prof. Lili Yulyadi.

Mengawali pemaparannya, Prof. Lili mengutip pemikiran monumental Mohammad Natsir dalam kitab Fiqhud Dakwah, yang menjadikan Surah Fussilat ayat 33–36 sebagai kompas utama gerakan dakwah.

​”Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik daripada seruan kepada Allah, yang dibersamai dengan amal saleh serta keteguhan identitas sebagai seorang muslim. Seperti yang dijelaskan Pak Natsir, dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara atau retorika, melainkan amanah dan kewajiban setiap individu muslim,” ujar Prof. Lili.

​Beliau menekankan bahwa dakwah yang efektif tidak hanya bersandar pada keluasan ilmu atau kepiawaian berorasi.

Lebih dari itu, dakwah harus lahir dari hati yang bersih dan disampaikan dengan penuh keikhlasan agar mampu menggerakkan hati manusia.

​Oleh karena itu, seorang dai dituntut untuk membangun lima dimensi kehidupan secara seimbang: jasad yang sehat, akal yang luas, hati yang bersih, nafsu yang terkendali, serta ruh yang senantiasa dekat kepada Allah. Dalam formulasi ini, akal berfungsi sebagai panglima berpikir, sementara hati menjadi pemimpin yang mengarahkan tindakan berdasarkan wahyu.

​Prof. Lili juga memperluas redefinisi dai di era modern. Menurutnya, dai bukan hanya mereka yang berdiri di atas mimbar.

Setiap orang yang berkontribusi dalam perjuangan Islam—baik melalui pemikiran, tenaga, pengelolaan media, teknologi, manajemen organisasi, hingga dukungan pembiayaan—adalah bagian dari barisan dai.

​Ia kemudian mencontohkan keteladanan Wali Songo yang sukses mengislamkan Nusantara lewat metode dakwah bil hal (dakwah dengan aksi nyata).

Pendekatan yang menyentuh kebutuhan riil dan menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat ini dinilai sangat relevan dalam menjawab tantangan sosiologis saat ini.

​Suasana halaqah berlangsung interaktif saat memasuki sesi diskusi. Para peserta membedah berbagai isu krusial, mulai dari strategi penguatan kaderisasi, urgensi sinergi antar-ormas Islam, mitigasi framing negatif terhadap umat, hingga model dakwah berbasis pemberdayaan ekonomi.

​Dalam sesi berbagi pengalaman, Muhaimin Abu Kayyis dari Bidang Humas & Media DDII DKI Jakarta membagikan kisahnya saat mendampingi seorang pedagang bakso yang terlilit kesulitan ekonomi.

Lewat pendekatan empati, Muhaimin tidak hanya menawarkan solusi usaha, tetapi juga merangkulnya untuk menjaga salat. Kisah nyata ini diapresiasi oleh Prof. Lili sebagai potret konkret dari dakwah dari hati ke hati yang memadukan kepedulian sosial dan pembinaan spiritual.

​Selain menjadi wadah kajian, forum ini juga dioptimalkan untuk mengonsolidasikan sejumlah agenda taktis DDII DKI Jakarta.

Di antaranya adalah penguatan kelembagaan Laznas Dewan Da’wah DKI Jakarta, pembentukan program kajian bulanan bagi pengurus dan alumni Kader Mubaligh Da’wah (KMD), serta perluasan kolaborasi di sektor ekonomi umat.

​Menutup jalannya halaqah, Prof. Lili Yulyadi mengajak seluruh kader untuk konsisten melakukan muhasabah dan merawat kemurnian niat.

“Dakwah yang keluar dari hati akan sampai ke hati. Sebaliknya, dakwah yang hanya keluar dari akal sering kali berhenti di akal,” pesannya.

​Melalui program halaqah berkala ini, DDII DKI Jakarta terus berikhtiar melahirkan kader-kader yang memiliki kedalaman ilmu, kejernihan hati, dan semangat berjamaah, sekaligus mampu menghadirkan solusi nyata bagi problematika umat demi melanjutkan cita-cita peradaban yang dirintis oleh Mohammad Natsir.***

Comments (0)
Add Comment