MADINAH – Di kawasan sekeliling dekat Masjid Nabawi terdapat sejumlah masjid bersejarah yang menjadi saksi perjalanan ibadah dan dakwah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya yang mulia.
Salah satu yang paling dekat dan populer adalah Masjid Ghamamah, yang menjadi magnet kunjungan jemaah haji maupun jemaah umrah.
Masjid Ghamamah berdiri berdampingan dengan Masjid Abu Bakar dan Masjid Ali bin Abi Thalib.
Ketiganya berada sangat dekat dengan kompleks Masjid Nabawi, sehingga mudah dijangkau oleh para peziarah.
“Jaraknya hanya sekitar 25 meter dari Masjid Nabawi, sehingga sangat mudah diakses oleh jemaah yang ingin berziarah,” ujar salah seorang jemaah yang ditemui di lokasi.
Dibandingkan masjid-masjid lain di sekitarnya, Masjid Ghamamah memiliki kisah sejarah yang sangat melekat dengan kehidupan Rasulullah SAW.
Nama Ghamamah berasal dari bahasa Arab yang berarti awan atau mendung.
Penamaan tersebut berhubungan dengan peristiwa turunnya hujan di Madinah, setelah Rasulullah SAW memimpin Shalat Istisqa di lokasi itu.
Seorang Muthawif, Ustadz Ibrahim al Haq menjelaskan, sebelum menjadi bangunan masjid, kawasan tersebut merupakan tanah lapang yang digunakan Rasulullah SAW sebagai tempat melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat memohon hujan.
Kala itu, Madinah dilanda musim kemarau yang panjang. Cuaca yang sangat panas menyebabkan masyarakat mengalami masa sulit akibat kekeringan.
Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW mengajak para sahabat memanjatkan doa kepada Allah SWT melalui Shalat Istisqa di area terbuka tersebut.
“Tidak berselang lama setelah Rasulullah menjalankan shalat Istisqa di area lapang tersebut, lantas muncul gumpalan awan di sekitar Madinah hingga kemudian turun hujan lebat,” urainya.
Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dan menjadi asal mula kawasan tersebut dikenal dengan nama Ghamamah.
Lokasi tersebut tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan Shalat Istisqa. Rasulullah SAW juga beberapa kali memimpin Shalat Idul Fitri dan Idul Adha di area tersebut.
Bahkan, di tempat itu pula Rasulullah SAW pernah melaksanakan Shalat Ghaib setelah menerima kabar wafatnya Raja Najasyi (Abasa) dari Kerajaan Aksum.
Untuk menjaga nilai sejarahnya, area lapang tersebut kemudian dibangun menjadi sebuah masjid permanen sehingga jejak peristiwa penting pada masa Rasulullah SAW tetap terpelihara.
Pembangunan Masjid Ghamamah dilakukan ketika masa Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai Gubernur Madinah sekitar tahun 87 Hijriyah.
Pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz juga dibangun Masjid Abu Bakar di lokasi yang dahulu jadi titik Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi imam dalam Shalat Id, serta Masjid Ali bin Abi Thalib.
Dan kedua masjid ini lokasinya di area yang sama, berdampingan dengan Masjid Ghamamah.
Tidak jauh dari Ghamamah meski terhalang bangunan hotel, berjarak sekitar 50 meteran, berdiri juga Masjid Umar bin Khattab.
Riwayatnya sama, yakni titik lokasi favorit Khalifah Umar saat menjadi imam shalat ied, maka dibangunkan sebuah masjid.
Hal ini sebagai bagian dari upaya mengingat dan melestarikan jejak peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam di Madinah.
Kebijakan tersebut bertujuan agar peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan Rasulullah SAW dan para sahabat tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Selain itu, berjarak beberapa ratus meter dari Masjid Nabawi juga berdiri Masjid Bilal bin Rabah. Di titik lokasi bekas rumahnya, untuk mengenang jasa muadzin terbaik dari sahabat Rosulullah SAW.
Diketahui, hingga saat ini masjid-masjid tersebut sebagian masih kerap dimanfaatkan oleh para jemaah untuk melaksanakan shalat lima waktu, meski tidak digunakan untuk Shalat Jum’at.(*/Red/MCH-2026)