Ketum PP PERSIS Ajak Jemaah Haji Rawat Nilai-Nilai Ihram dan Arafah di Tanah Air

BANDUNG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. KH. Jeje Zaenudin, mengajak seluruh jemaah haji untuk menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama di Tanah Suci setelah kembali ke Tanah Air.

​Pesan tersebut disampaikan menyusul selesainya rangkaian utama ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dijalani jemaah haji Indonesia, khususnya jemaah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) PP PERSIS serta jemaah haji khusus PT Karya Imtaq.

​KH. Jeje mengungkapkan rasa syukur mendalam atas kelancaran pelaksanaan ibadah haji yang telah dilalui para jemaah.

Mulai dari persiapan keberangkatan, pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), hingga penyelesaian berbagai rukun dan wajib haji lainnya.

​”Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah SWT karena seluruh rangkaian utama ibadah haji telah dapat dilaksanakan dengan baik. Meskipun masih ada sebagian jemaah yang sedang menyempurnakan beberapa rangkaian ibadahnya, secara umum jemaah telah menunaikan seluruh tahapan haji dengan lancar,” ujar KH. Jeje.

​Menurut KH. Jeje, ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang tidak mudah. Selain menguras tenaga dan fisik, ibadah haji juga menuntut kesabaran, keikhlasan, ketahanan mental, serta pengorbanan yang besar dari setiap jemaah.

​Karena itu, ia mengingatkan agar seluruh pelajaran yang diperoleh selama berada di Tanah Suci tidak berhenti hanya sebagai pengalaman sesaat.

Sebaliknya, pengalaman tersebut harus menjadi bekal untuk memperbaiki kualitas kehidupan setelah kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

​”Jangan biarkan nilai-nilai ihram dan Arafah berakhir di Tanah Suci. Apa yang telah dipelajari, dirasakan, dan diperjuangkan selama haji harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

​Lebih lanjut, KH. Jeje menjelaskan esensi dari dua momentum besar dalam ibadah haji:

Pakaian Ihram: Mengandung pesan mendalam tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT. Dalam balutan kain putih yang sederhana, seluruh perbedaan status sosial, jabatan, kekayaan, maupun latar belakang melebur menjadi satu. ​”Ihram mengajarkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Yang membedakan hanyalah keimanan dan ketakwaan,” jelasnya.

​”Ihram mengajarkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Yang membedakan hanyalah keimanan dan ketakwaan,” jelasnya.

Wukuf di Arafah: Menjadi momentum penting untuk introspeksi diri (muhasabah), ketundukan total kepada Allah SWT, serta kesadaran bahwa setiap manusia kelak akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.

​Nilai-nilai tersebut, menurut KH. Jeje, seharusnya menjadi fondasi bagi lahirnya pribadi yang lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, serta lebih taat dalam menjalankan perintah Allah SWT setelah pulang dari ibadah haji.

​Di akhir pesannya, Ketum PP PERSIS ini mengingatkan jemaah untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan besar yang telah dikeluarkan, baik berupa tenaga, pikiran, waktu, maupun materi.

​”Haji yang mabrur harus tercermin dalam perubahan sikap, akhlak, dan perilaku yang lebih baik,” tegasnya.

​Ia juga mendoakan seluruh jemaah agar senantiasa diberikan kesehatan hingga tiba kembali di Tanah Air dan memperoleh ganjaran terbaik di sisi Allah SWT.

​”Semoga seluruh perjuangan jemaah dicatat sebagai amal saleh, diberikan kesehatan hingga kembali ke rumah masing-masing, serta dianugerahi predikat haji yang mabrur. Semoga kemabruran itu membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan umat,” pungkas KH. Jeje Zaenudin. ***

hajiJeje zaenudinPp persis
Comments (0)
Add Comment