MADINAH – Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Fardan Aruna Syafzani Wibowo sudah menyandang gelar haji. Remaja ini menjadi salah satu jemaah haji termuda pada musim haji 2026 setelah menggantikan porsi keberangkatan almarhum ayahnya yang wafat akibat kanker tiga tahun lalu.
Mengenakan gamis putih, bocah bertubuh kurus itu tampak tenang saat duduk di lobi Millennium Taiba Hotel, Madinah, Sabtu (13/06/2026).
Ketika ditanya perasaannya bisa menunaikan rukun Islam kelima di usia belia, ia menjawabnya dengan kepolosan khas anak-anak.
“Senang,” ucapnya singkat.
Siswa kelas 1 MTs Khadijah Kota Malang ini berangkat ke Tanah Suci mendampingi ibunya, drg. Siska Aprilia (41), seorang dokter gigi asal Gresik. Keduanya tergabung dalam kelompok terbang (kloter) SUB 71 bersama jemaah asal Denpasar, Bali.
Perjalanan haji ini sejatinya adalah buah kesabaran panjang. Ayah Fardan telah mendaftarkan diri sejak tahun 2013. Namun qadarullah, sang ayah berpulang pada tahun 2023 setelah tiga tahun berjuang melawan kanker. Demi menemani sang ibu, nama Fardan kemudian diajukan sebagai ahli waris pengganti.
“Alhamdulillah semua dimudahkan. Ternyata mulai tahun ini, anak usia 13 tahun sudah bisa mengajukan pelimpahan porsi untuk menggantikan orang tua. Jadi Fardan bisa berangkat menggantikan bapaknya,” ungkap Siska.
Awalnya, Siska sempat didera keraguan. Ia khawatir fisik anak sulungnya itu tidak akan kuat menghadapi beratnya puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Namun, segala kekhawatiran itu sirna begitu mereka menjalaninya.
“Alhamdulillah, setelah dijalani malah banyak kemudahan. Hanya saat tawaf ifadah dan sa’i saja Fardan agak kelelahan, karena fisiknya baru terkuras setelah pulang dari puncak Armuzna,” cerita Siska.
Meski tampak kuat dan tegar, Fardan tetaplah seorang anak yang memendam rindu mendalam pada sosok ayahnya. Rasa rindu itu kerap membuncah, terutama saat ia bersujud di Raudhah, Masjid Nabawi, dan ketika menjalani wukuf di Arafah.
“Pas bangun tidur di Arafah, langsung ingat ayah. Tapi enggak nangis,” tutur Fardan pelan sembari sesekali menoleh ke arah ibunya.
Bagi Siska, momen wukuf pada 26 Mei 2026 lalu terasa sangat emosional. Tanggal tersebut bertepatan dengan tiga tahun wafatnya sang suami. Di bawah terik matahari Arafah, Siska menumpahkan air mata, melangitkan doa sembari mengingat kembali pesan terakhir belahan jiwanya: jaga shalat anak-anak.
“Almarhum selalu berpesan agar menjaga shalat anak-anak, karena shalat adalah tiang agama. Kalau shalatnya tidak kuat, yang lain tidak akan kuat. Kebetulan, almarhum selama hidupnya tidak pernah lepas dari shalat dhuha dan tahajud,” kenang Siska dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Fardan memegang erat mandat dari sang ayah untuk menjaga ketiga adiknya di rumah. Janji itulah yang selalu ia rapalkan di sela-sela ibadahnya di Tanah Suci.
“Selalu ingat pesan ayah agar selalu jaga adik-adik. Semoga ayah diampuni dosanya,” kata Fardan sambil melempar senyum tipis.
Saat ditanya apa doa paling utama yang ia panjatkan untuk sang ayah, Fardan memberikan jawaban sederhana namun terasa begitu dalam.
“Doakan ayah di Arafah, ingin ketemu lagi di surga,” ucapnya lirih.
Siska meyakini, kelancaran ibadah yang mereka lalui tak lepas dari pertolongan Allah SWT yang senantiasa menuntun langkah kaki mereka sebagai anak yatim dan janda yang ditinggalkan.
“Minta pertolongan sama Allah, itu saja. Pasti kita diberi kemudahan apa pun jalan yang akan kami hadapi ke depannya,” pungkas Siska optimis. ***