Pendekatan Fikih Kontemporer: Kunci Keselamatan dan Kelancaran Jemaah Haji

MADINAH — Penyelenggaraan ibadah haji modern yang melibatkan jutaan umat manusia menuntut para pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) untuk lebih adaptif.

Pendekatan fikih klasik kontekstual dinilai menjadi kunci utama agar syariat tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan jemaah.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pembimbing KBIHU Ar-Rohmah Muslimat NU Wonosobo, H. Khusni Ma’ruf (Gus Nanang), saat mengevaluasi pelaksanaan haji 2026 di Madinah, Jumat (26/6/2026).

Menurut mantan aktivis Lembaga Bahtsul Masail PP Lirboyo ini, pembimbing tidak bisa lagi hanya terpaku secara tekstual pada kitab-kitab turats (kitab kuning).

“KBIHU harus memegang prinsip al-muhafazhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah—menjaga warisan ulama terdahulu yang baik, sekaligus mengambil pandangan baru yang lebih membawa kemaslahatan,” ujar Gus Nanang.

Talfiq dan Pembaruan Manasik sebagai Solusi Praktis

Gus Nanang menyoroti penggunaan konsep talfiq (menggabungkan pendapat antar-mazhab) sebagai solusi konkret di lapangan.

Menurutnya, talfiq dalam konteks haji bukan didasari nafsu mencari kemudahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga keselamatan jiwa (hifzhun nafs) di tengah kepadatan massa, seperti saat tawaf atau lempar jumrah.

Ia juga mendesak adanya pembaruan materi manasik haji secara berkala melalui sinergi antara Kementerian Agama dan KBIHU.

Langkah ini penting untuk menghindari kebingungan jemaah akibat informasi regulasi di Arab Saudi yang tidak sinkron, seperti aturan mengenai Arbain maupun kebijakan operasional terbaru.

Dukungan Regulasi: Dari Dam Resmi hingga Badal Haji

KBIHU Ar-Rohmah menyatakan dukungan penuh terhadap regulasi pemerintah, termasuk pembayaran dam melalui lembaga resmi yang ditunjuk. Kebijakan ini dinilai memberikan kepastian hukum dan menjamin tata cara pelaksanaan sesuai syariat.

Terkait badal haji, Gus Nanang mengingatkan jemaah untuk selektif dan memilih pelaksana yang memiliki rekam jejak amanah serta integritas tinggi guna menghindari praktik yang tidak bertanggung jawab.

Esensi Haji: Meneladani Rasulullah, Bukan Sekadar Angka

Menutup evaluasinya, Gus Nanang mengajak jemaah untuk memahami makna spiritual mendalam selama berada di Madinah.

Ia menekankan bahwa mabrurnya ibadah tidak diukur dari seberapa sering jemaah masuk ke Raudhah atau menyelesaikan salat Arbain secara fisik, terlebih jika harus memaksakan diri dalam kondisi sakit.

“Esensi ziarah yang sesungguhnya adalah bagaimana jemaah mampu membawa pulang semangat Raudhah dan akhlak Rasulullah SAW ke Tanah Air—menjadi pribadi yang lebih damai, sabar, dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. ***

Comments (0)
Add Comment